Rabu, 24 Desember 2008

Perkawinan Ibunda al_Masih

Sambil duduk bersimpuh Maryam, -aku mengucapkan namanya dengan lidah arabku sebagai kebiasaan me-nderes alqur’an tiap saat aku ada waktu- “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata : ‘Hai Maryam, sesungguhnya Alloh telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita didunia (yang semasa dengan kamu)” QSA : 3:42, ia berada diatas hamparan jerami gandum bersandarkan beberapa ikat, kaki lutut betis tumit jemari kaki sedikit_jarang digerakkan, green green gress at kitchen kresek kresek kresek. Suara lirih gesekan batang jerami kering tebal empuk hangat memantul, dirasakan Maryam bagai kasur empuk.

Gadis Monalisa, itulah benak pikiranku ketika memandandang foto gambar maupun patungnya. Monalisa, gadis beraut wajah sedikit senyum terkulum antara pipi sedikit lesung, mata sayu memandang, memancarkan tanda tanya bagi penikmat tarian kuas jari Leonardo da Vinci. Muka raut wajah bola mata Monalisa yang menyimpan bermacam misteri, harap cemas kawatir takut lesu dan bahagia.

Harap, mengharap sang kekasih dapat menerim dirinya, pendampin hidup, lelaki pelindung dirinya juga anak-anaknya.

Cemas, memang cemas berjam-jam duduk didepan da Vinci tanpa menyandar, menahan buang angin kencing maupun tinja, agar lingkungan yang harum semerbak penuh cat tak tercemari.

Kawatir, kalau sang maestro tak dapat menyelesaikan tampilan dirinya, atau kehabisan cat dalam mengoles alis bulu bola mata, celah-celah bibir merekah berdagu ovalnya.

Takut, kaalu ada pemuda_gadis yang tak suka pada dirinya dan da Vinci, ditengah membara kasih birahi menanti duduk dipelaminan berdua, mem-bidadari menjemput datangnya esok.

Lesu, memang orang tua menyuruh tarak, diet atau puasa, untuk menghilangkan lemak sisa pembakaran dalam darah, menumbuh gerakan darah muda penuh ion-ion hawa, pancaran aura tubuh dirinya menarik magnit electron pengunjung, sedikit sayu tersimpan dalam senyuman.

Bahagia, expresi tak tersimpan tumpah memberi, terpenuhi tumpukan harapan, terobati sakit dalam kesendirian, senyum selamat dari ketidak pastian, gadis perawan sebagai julukan, orang tua menjadi kepastian. Kebahagiaan berakar dari hati rasa bagi peraba, penghapus duka, tiada dapat terucap dengan kata aksara.

Sambil membelaikan telapak tangan diatas kepala ubun-ubun anak lelaki yang baru dilahirkan dan membelainya, bola matanya mengarah ke sela sela papan penutup pintu kawatir kalo-kalo ada orang yang menganiaya dirinya. Timbul rasa cemas akan keselamatan bayinya serta kawatir tetangga dan lingkungannya tidak menerima. Badannya terasa lesu lelah sehabis menguras tenaga dalam proses pesalinan yang baru dijalaninya, ditambah kurang tidur kecapaian dalam perjalananan, hanya makan sedikit buah kurma.

Semua pupus hilang sebuah kebahagiaan ‘ana abdullah’ sebuah kata yang terucap dari mulut anaknya yang masih ada sedikit air plasenta agak mongering diantara dagu lehernya. Dinamai anak tersebut Isa, sebagai ia menamai dirinya sendiri ketika masih dalam kandungan, sedang tetangga kerabat atau orang pendatang memanggil, Ysei, Ysos dan Yeses maupun Yesus putra Maryam. Komunitas Palentina, termasuk juga Nazaret, pada waktu itu terdiri dari bangsa Smith, suku Ibrani, Syuryani dan Arab, juga ada sebagian kelompok Kypt, Hexos dan bangsa Roma juga Greek.

Kelahiran Isa anak Maryam, membawa peradaban baru didunia sejalan dengan lahirnya peradaban baru dari Eropa.

Sebuah pemikiran tentang metafisika yang sangat sulit dipahami masyarakat awan, sebuah lompatan pemikiran dari alam fisik ke alam metafisik, memang sedikit sekali yang terpelajar, mereka umumnya sangat erat tergantung pada alam dan tak berdaya menghadapi alam, pemikiran hubungan Pencipta, penciptaan dan ciptaan. Isa putra Maryam, sebagai jawaban teologis kongrit gagasan pemikiran Plato, juaga para muridnya, yang hanya dipahami oleh sebagian kecil orang terpelajar pada waktu itu.

Maryam sambil menggendong anaknya dalam pangkuan kerebahan menyandar, menikmati kebahagian sebenar_benar bahagia, apalagi anaknya dapat diajak ‘dialog’ baik masih dalam kandungan juga sehabis baru lahir, sebagai mukjizatnya.

Hari menjelang sore, mulailah Isa merasakan lapar hausnya, diunjukan puting payudara ibunda pada bibir anaknya “bismillah” dalam hati Maryam, mulailah Isa menghisapnya sampil memainkan jari tangan kirinya meremas puting kanan ibunya. Mungkin Maryam lupa membawa kain bedong karena harus terburu-buru meninggalkan rumah orang tuanya.

Dialog jiwa rasa antara keduanya, ditopang bahagia, tiada terasa mengalirlah getaran kebahagiaan keseluruh tubuh jaringan sarafnya. Setiap hisapan air susu menghilangkan rasa pusing kepala dan lelah serta merangsang tumbuh produksinya kekebalan dari tubuhnya. Dalam rahimnya yang baru melahirkan secara pelan perlahan keluar semua sisa air ketuban diiringi serat_lendir bening kekuningan pembersih rahim penyembuh luka, sama seperti sebelas bulan sebelumnya.

Perlahan-lahan genggaman tangan kirinya dilepaskan, tinggal bibir mulut sedikit agak jarang
mengenyot, tidurlah Isa dalam dekapannya. Sambil menerawang sesekali mencium keningnya, teringatlah akan teman kerabat seperti Magdalena, Gracella, Elisabeth, Maryeh, Misalina, Helda, Nareth, Zaretha apalagi malam itu merekalah yang menemani, sedikit menggoda bercanda, hari esok akan menerima pinangan Yusuf pemuda soleh, putra kerabat orang tuanya yang soleh pula, sebagai keluarga para nabi.

Magdalena menyisirkan rambutnya yang sedikit ikal dibiarkan terurai mengembang, Elisabeth merapikan ujung kuku kaki tangan dan giginya sedikit dipangur serta memasangkan pacar merah darah pada kuku_kukunya, ada yang memasang pernik-pernik pada zube_gaun yang hendak ia pakai, Zaretha bersihkan bulu kalong sekitar pelipis kuduknya.

Kini mereka tak satupun mau menemani, takut kawatir dibenci masyarakat tetangga, itu disadari oleh Maryam, yang sebulan lagi, kalau Tuhan tidak memilihnya sebagai orang suci yang akan melahirkan Isa, ia akan melaksanakan pesta perkawinannya.

Pertunangan berjalan lancar dilaksanakan di dalam masjid, yang merupakan Balai Umat sedangkan mihrab kamar-kamar disekelilingnya untuk menampung musafir menginap atau orang yang hendak berhalwat, dipakai menampung keluarga Yusuf. Kedua keluarga saling memperkenalkan, saling meminta_menyerahkan kedua anaknya, disaksikan Nabi Zakariya dan Yahya, nyanyian kidungan Tauroh dikumandangkan ditutup doa oleh Nabi Zakariya, orang tua angkatnya yang bukan orang Yahudi.

Pertunangan disini sama dengan perkawinan ‘bawah tangan’ istilah bagi orang yang tidak mencatatkan perkawinannya pada pejabat fungsional yang bertugas memncatat perkawinan.

Adab dan aturan yang berlaku khususnya komunitas Ibrani atau Yahudi, pesta perkawinan hanya dapat dilaksanakan setelah satu tahun dari pertunangan. Bagi komunitas Arab atau Suryani tidak seketat itu. Yusuf dan Mariyam bukan komunitas Yahudi tetapi Suryani. Itulah mengapa orang Yahudi mengangap Isa anak perzinaan bukan anak Yusuf, dan memang bukan anak Yusuf, karena dalam masa tunggu setahun Mariyam telah hamil dan melahirkan Isa belum genap setahun dari pertunangan.

Administrator Agama untuk wilayah Palestina dipimpin oleh para Sanhedrin Yahudi atau para Imam maupun Rohib, yang ditunjuk oleh penguasa atas nama Kaisar Pemerintahan Romawi

Pertunangan Yusuf dengan Mariyam sudah dapat dianggap sebagai rangkaian perkawinan, lelaki lain sudah tidak dapat meminang Mariyam, dapat meminang Mariyam kalau Yusuf sudah memutuskan ikatan pertuanangannya ataupun dapat juga dari pihak Mariyam, dengan kata lain keduanya cerai terlebih dahulu, konsekwesi logisnya dari perceraian putusnya tali pertunangan mereka berstatus duda maupun janda.

Lamunan Maryam terbangun, setelah pusernya terasa ada air hangat mengalir, rupanya Isa sedang pipis, ia bergegas berdiri mengambil kain lain yang masih ada untuk mengganti kain popoknya.

Mukjizat Bagi Maryam dan al Masih

Maryam ketika diasuh Nabi Zakariya sudah ada tanda tanda keistimewaan, ketika Maryam masih bayi pernah diajak berhalwat dalam mihrob masjib, waktu sejenak ketika ditinggal Zakariya mengambil air wudlu, keajaiban ada disisinya berupa buah-buahan dan makanan lunak. Sebagai wanita yang soleh dan to’at ia telah lulus dari ujian sebagai orang sabar yang mukhlasoh, sama persis, istri Firaun musuh bebuyutan Nabi Musa. Begitu juga al Masih ketika masih dalam kandungan telah mampu menapik tuduhan yang dialamatkan kepada ibunya, ketika masih bayi dalam ayunanpun sudah dapat berbicara dengan orang lain siapa dia sebenarnya. Ibunya, Maryam, tidak perlu menjelaskan, cukup mengisaratkan penanya kepada kandungan maupun bayi yang ia gendong.

@ “Dan ceritakan (kisah) Maryam didalam Al Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat disebelah timur.

@ maka ia mengadakan tabir (yang menlindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma dihadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.

@ Maryam berkata : “sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”

@ Ia (Jibril) berkata : “sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu anak laki-laki yang suci”

@ Maryam berkata : “bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina !”

@ Jibril berkata : Demikianlah, Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami, dan hal itu adalh suatu perkara yang sudah diputuskan”

@ Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. QSA : 19 : 16 – 22.

Renungan Kurokandas menyonsong liburan Natal

Dari Kurokandas Untuk Ustaz Masud CHATIM,

Selamat menikmati liburan cuti bersama dihari lebaran Hari Natal.

Tidak ada komentar: