Sambil membawa pedang yang masih dalam sarungnya, sementara Ismail anaknya mengiringi dari belakang dengan berjalan setengah lari, sampailah mereka di tempat yang telah dipersiapkan Ibrahim ayahnya. Disitu ada beberapa batu untuk berlindung agar tak terlihat daari tempat seberang sedang apa mereka berdua. Ibrahim mengambil kulit leher unta yang telah disamak, yang biasa ia pakai sebagai igal penutup kepala agar rambutnya yang gondrong tidak tidak berderai dihembus angin. Dipakaikan kulit itu untuk menutup mata Ismail sambil diganjal daun korma yang baru pungutnya, dilipat beberapa lipatan sebagai ganjal atau kunci agar tidak longgar, membatasi padangan Ismail. Ismail disuruh duduk berlutut dan meletakkan kedua telapak tangannya diatas kedua pahanya dengan kepala sedikit menunduk
Ibrahim mengambil kantong air yang terbuat dari kulit kambing, ia meminum beberapa tegukan, sambil menerawang kearah utara, mengingat masa kecilnya di Delta Eufrat. Terbayanglah, bagaimana raja Namrut ketika hendak berkorban untuk kerajaannya, ia cari wanita muda yang tercantik di jadikan sesaji sembahan agar kemakmuran tetap ada. Banyak para wanita muda adatang ke kerajaan dengan bangga dan rela agar merekalah yang dipersembahkan, mereka berkeyakinan pasti akan bersama dewa_dewi dilangit. Terbayang pula akan nasibnya ketika dibakar sebagai hukuman yang ia terima akibat pengrusakan patung patung milik umum, serta pengusirannya hingga sampai di lembah yang tandus akibat kejatuhan meteor pada waktu dulu.
Menengok agak ke barat laut teringatlah ia akan isteri yang ia sayangi, Sarah, walaupun ia sendirian akan tetapi kesendiriannya banyak tetangga lagi pula
Sambil duduk menerawang serta membolak balikan pedang goloknya, tiba tiba Ismail anaknya bersin ada debu rumput masuk hidungnya “huaa hiiing” dan mengucap ‘alhamdu lillahi’ dibalas Ibrahim ‘yarhamukalloh’ Ismail melanjutkan ‘yahdikalloh’.
Pedang diletakkan di atas kulit igal kepala Ismail, denga terasa adanya pedang diatas kepalanya, Ismail mengucap ‘inna lillahi wa inna ilaihi rojiun’ badan Ismail dingin pucat pasi serta mengeluarkan sedikir air kencing. Kemudian Ibrahim mengangkat pedangnya, dalam hati Ismail bilang “kok belum” lalu Ismail bertanya. Sudah Syaikh, panggil Ismail kepada ayahnya. Ibrahim menjawab ‘taqabalallohu minka’, Alloh telah menerima kesabarabnmu wahai anakku Ismail. Allohu akbar wa lillahil hamdu la ilaha illalloh, tiba tiba Ibrahim ber takbir, tahmid dan tahlil. Alloh telah menerima kesabaran kita dan Malikat tadi telah mengganti seekor domba disebelah batu itu, lalu kambing itu didekati dan disembelih Ibrahim dengan mengucap, bismillah haza minka wa ilaika ya alloh, allohu akbar.
Hajar isteri Ibrahim sambil memasak gandum yang ada di dapur, sepertinya ada tanda tanya, tidak seperti biasanya ketika keluar rumah membawa pedang golok, lagi pula telah diasah sampai tajam. Kemudian Hajar keluar dari pintu rumahnya, dan terlihat Ibrahim memanggul seekor kibas yang telah dipotong sedangkan Ismail memanggul kantong air. Sambil menggeremeng ia mengucap ‘ooo rupanya mereka memotong kambing’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar