Kamis, 09 April 2009

Perkawinan Nabi Muhammad II

Suasana KUA waktu itu sangat sepi, biasanya jam-jam sebelum dzuhur ramai orang meminta pelayanan KUA, sebagian pegawai ada yang menulis, mengetik ada juga yang sedang mengikat berkas pemeriksaan, Naib tidak ada di kantor mungkin sedang ke kecamatan atau ke majlis-taklim, suasana Maulid Nabi Muhammad hampir ditiap majlis taklim dan masjid mengadakan peringatan tersebut ……. tiba-tiba penghulu Machfud berzikir melagukan atau me-naghom-kan beberapa ayat-ayat Alqur’an

#“Raja berkata : ‘bawalah ia kepadaku’ Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf : ‘ Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tanganya. Sesungguhnya Tuahn-ku, Maha Mengetahui tipu daya mereka’ QSA : 12 ; 50

# raja berkata (kepada wanita-wanita itu) : ‘Bagaimana keadaanmu (apakah Yusuf terpengaruh godaan itu apa tidak) ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu) ?’ Mereka berkata : Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan dari padanya. Berkata istri al Aziz : ’Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya ia termasuk orang-orang yang benar. QSA : 12 ; 51

# (Yusuf berkata) : ‘Yang demikian itu agar dia (Al Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Aallah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat. QSA : 12 ; 52

…… beberapa menit kemudian masuk waktu shalat dzuhur …… menjelang jam 13.00 nasi bungkus yang dipesan dari uang patungan belum kunjung datang, mungkin warung sedang ramai pengunjung, atau mungkin nasinya kehabisan, menunggu hasil tanakan berukutnya, memang warung Teh Lela –panggilan Nurlela- tak sepi dari pengunjung, kelebihan penarik pengunjung warung ini dibandingkan warung lainnya hanya cara menyajikan menunya saja, yang tiap hari berubah walau hanya dua-tiga macam lauk-sayur-gulainya ……

1] Sofyan Amin memulai pembicaraan : “pak Machfud, surat Yusuf yang pak Machfud lantumkan tadi menjelang sholat, seperti romantika novel saja” menurutku seperti sebuah protes seorang istrri terhadap suami-suami yang memiliki selir-gundik ataupun istri simpanan. Dalam kesepiannya seorang istri juga wajar kalau memiliki teman kencan selain suaminya.

2] Mungkin ada benarnya, ‘kata Machfud’ coba banyangkan pada saat itu seorang Raja Caesar atau Faroh memiliki teman kencan semacam Harim yang jumlahnya puluhan bahkan hingga ratusan termasuk Nabi Daud dan Sulaiman yang kebetulan keduanya juga sebagai raja, bahkan dalam Ke-khilafah-an Islampun di lingkungan istana terdapat bangunan kaputrian yang hanya dihuni para harim kholifah, hanya dijaga dan ditemani para lelaki yang konon para lelaki ini dikebiri terlebih dahulu oleh team medis kekhilafahan setelah dapat diterima sebagai pegawai khilafah.

1] Aku gak dapat bayangkan, bagaimana mereka ketika berkumpul bersama dalam dinding tinggi penuh kemewahan yang merupakan dambaan wanita agar dapat mengabdi kepada kholifah sebagai pelipur serta penghibur kholifah. Namanya bibir tak berkancing maupun reselting bebas buka-tutup, juga lidah menjulur terkulum tiada tulang berada di ruang kebebesan dalam mulut, pasti pertanyaan yang terlontar bagaiamananya … apanya ketika habis dikunjungi kholifah.

2] Yang kubayangkan bahwa dalam bangunan tempat Harim itu ada ruangan semacam balai atau hall ada karpet tebal dan halus bermacam buah-buahan, makanan dan minuman parfum, minyak ramuan rempah dan alat musik. Kholifah beserta permaisuri merebahkan diri, punggung kepala beralaskan bantal ber-kapuk-kan bulu unggas juga bulu domba pilihan atau kapas, para Harim melingkar sekeliling kholifah ada yang memijit membelai dari ujung kaki hingga rambut kepala, sementara yang lain menyanyi, menari tarian perut biasa, juga ada tarian erotic, sementara penjaga yang dikebiri hanya dapat menikmati dengan pandangan matanya yang sesekali menelan lidah ikut menikmati keindahan yang disaksikan.

1] Kalau aku membayangkan, sebelum para Harim memulai pekerjaan mereka, terlebih dahulu mencium tangan dan telapaknya kholifah, kemudian kholifah membalas dengan ciuman kening dan kedua pipi-mereka, setelah badan segar dan fikiran kosong sampai kholifah ngantuk tidur bersama permaisuri yang mendapatkan gilirannya pada malam itu, kembalilah para Harim ke kamarnya masing-masing, seluruh lampu dipadamkan hanya satu lampu berminyak lemak/gemuk gazalba atau kijang yang menyala redup-redup, yang menebarkan bau harum diruangan

…… tiba-tiba terdengar salam “asslamu’alaikum” kata Kurokandas alias Ahmad Karim

1&2] wa ‘alaikum salam eee H a r i m, masuk kang, jawab mereka berdua.

3] Terima kasih mendapat satu nama panggilan lagi ‘kata Kurokandas’ dengan demikian panggilanku Kurokandas alias Harim Ahmad Karim

1] Bagaimana ? Sehat-sehat ? Sendirian ? Mana penghulu Kayim !?

3} Waduh, banyak sekali pertanyaannya….. alhamdulillah sehat …… pak penghulu sedang menyawah, mengerjakan sawah bengkok-desa jatah yang diperunukkan penghulu, mungkin beberapa hari lagi akan panen, sebagian buahnya sudah banyak yang kering … oh iya kami berdua dengan si Jabrik.

2] Siapa Jabrik itu.

3] Mawardi, si rambut ijuk, yang rambutnya seperti bulu anak babi-hutan itu lhooo.

1] Jangan dipanggil Jabrik, yang lebih keren dan n’jamani, panggil saja Jepri atau Jep

atau kerennya Mr LeGoret …… masuklah Mawardi, sambil ucap salam

3] Ini pak, Jepri teman akrab dan temen cari nafkah, kalau berbarengan rebutan penumpang kalau simpangan tebar salam.

4] Iya pak, saya Mawardi …… sambil bengong mengapa dirinya dipanggil Jepri … pasti olah-lidahnya Kuro.

3] Ini pak, kebetulan saya diangkat jadi wakil pembantu penghulu oleh kades, pertimbangannya setiap hari lewat jalan ini, bahasanya pak penghulu Kayim menghantar berkas dan calon pengantin ke KUA.

1] Berikan ke Neng Jamila biar dicatat dalam pendaftaran, terus mana calon pengantinnya.

3] Nanti ba’da zhuhur sekitar jam 13.00, ‘sehabis pulang sekolah kata Haji Karim’

1] Coba kesinikan dahulu berkasnya, berarti calon istri masih dibawah usia 21 Tahun, … kalau begitu sekalian dengan Walinya diajakm ke sisni.

3] Ini pak, … memang umurnya hampir menginjak usia 17 Tahun, kalau dihitung sih baru berumur 16 tahun lebih 11 bulan, konon katannya pernah tidak naik kelas sekali, teman temanya sih sudah pada masuk sekolah SLTA, padahal minggu depan ia baru akan mengikuti Ujian Nasional SLTP-nya. Habis ujian terus mancari Ijab-Sah, walau belum ketahuan lulus-tidaknya sekolah, yang penting Sah menjadi seorang istri.

2] Cita cita yang mulya itu, gak banyak keinginan, cuma satu keinginan Jadi Pengantin, jadi ibu rumah tangga, umur 40 tahunan sudah jadi nenek-nenek gak seperti kita umur 30 tahunan baru dapat seorang anak.

1] Kalau cepat hamil itu beresiko atas kesehatan dan keselamatan diri dan bayinya.

3] Beresiko akibat lelaki, kata saudara kita serumpun pelancong dari Malaysia, yang menamakan Rumah Sakit Bersalin dengan sebutan istilah Hospitel Akibat Lelaki … biar Kuro saja yang ngebawanya ke bu Mila.

……………………………

1] E e e e e, ngomong-ngomong kemarin dulu sehabis acara Maulidan ketika pak Naib habis ceramah katanya datang topan puting beliung, ya ?

3] Barangkali puting beliungnya segan sama pak Naib lagi pula kan ada Yai Podo, Kyai Sopodo yang ahli membelokkan hujan, panas, angin juga topan puting beliung … ketika topan beliung nampak dari kejauhan kelihatan memanjang hendak menyentuh tanah, Yai Podo mengambil janur kering –pucuk daun muda kelapa- dari berenda samping rumahnya dan membakarnya sambil teriak-teriak dan diikuti semua orang … akhirnya puting beliung membelok kearah sebelah dan gak sampai menyentuh tanah … bablas kembali ke awan bergabung dengan mendung.

2] Hebat seperti mbah Marijan, eyang Rosa bin Sakti yang mampu merayu Gunung Merapi agar dapat menahan marahnya.

1] Terus acara maulidannya bagaimana ?

3] Berlanjut, walau agak berantakan tetapi yang datang kembali mengadiri tidak sebanyak sebelum akan datang puting beliung, lebih-lebih yang berlindung di parit, sarung kain maupun jelananya banyak yang gelepotan lumpur. Banyak yang pulang memebersihkan pakaian dan badannya serta tidak datang kembali menghadiri acara yang dilanjutkan kembali.

1] Yang menggantikan KH Izzudin siapa ?

3] Ustaz Abdul Ajiz bin Abul Hamid, S.Ag … guru Madrasah Aliyah.

2] Bagaimana ? bagus ceramahnya !

3] Ya biasa biasa saja, akan tetapi pak penghulu… , ketika ustaz Ajiz mengexpresikan marahnya Abu Lahab dihadapan pemuda Quraisy, kita yang duduk didepan yang kena marah.

2] Marahnya bagaimana ?

3] Abu Lahab marah amat sangat, wajahnya merah padam jidat mengkerut menatap tajam lamban jarang berkedip, bernafaskan seperti habis lari menghidar kejaran air-bah yang dimuntahkan bibir tanggul sungai atau dam/situ penampung air. Sambil berdiri disamping podium marahlah Abu Lahab dan berucap ‘ku-rang ha-jar !’ bersaamaan dengan marahnya di tempelenglah meja podium seperti menepuk serunya gendang oleh ustaz Ajiz, tangan kananya meraih gelas kosong bersampingan botol air yang tergolek kena gonjangan podium. Kami yang duduk didepan terperanjat ikut ketakutan, hilang ngantuk tak ada yang tertawa. Dalam hati aku bertanya ‘apa iya di Arab pada waktu itu sudah ada meja podium, atau barangkali susunan batu pagar pembatas, kalau yang jadi podium itu batu, pasti tangan Abu Lahab akan memar atau jari tangannya akan retak atau patah’.

Kemudian Abu Lahab melanjutkan perintah sambil marah dengan nafas ditarik dalam-dalam dan ngos-ngosan : ’wahai pemuda Quraisy, aku tidak rela, kalau tradisi dan aturan yang telah diturunkan oleh orang tua, puak, nenek tetua kita dirobah oleh Muhammad, tangkap dan hajarlah Muhammad hidup-hidup dan bawalah kehadapanku’. Demikian ucapan itu ditirukankannya, kemudian ia melanjutkan ceramahnya.

Bapak-Ibu Saudara sekalian, rupanya sehabis memerintahkan anak buahnya yang terdiri pemuda pemuda Quraisy Mekah, kebetulan cuaca di Mekah saat itu panas sekali, sekarang juga masih panas, kata ustaz. Kemudia ustaz melanjutkan ceramahnya ‘rupanya Abu Lahab kehausan’ bersamaan dengan ucapannya diambilah botol air kemasan diputar tutupnya yang biru dengan tangan kirinya, diisikanlah air kedalam gelas setinggi setengah lebih sedikit, beginilah bapak ibu saudara Abu Lahab cara meminum, siku tangan kanannya diluruskan kemudian gelas digerakkan menuju bibir, siku perlahan melipat, bibir gelas bersentuhan dengan bibirnya lalu Ustaz berucap “Bismillahir-rohmanir-rohiim”, diminumlah air tersebut oleh Ustaz.

Kami komentari waktu itu, mana yang Ustaz mana yang Abu Lahab, rupanya Abu Lahab ketika mendapat nikmatpun masih teringat kepada Alloh, yang waktu itu Jepri langsung menjidak kepalaku dengan tangannya. ….. Ada jeramahnya yang aku gak ingat syi’ir kata-kata arab yang diucapkan waktu itu, barangkalai Jepri masih ingat.

4] Kalau gak salah begini bunyinya :

# qola kama syaikhuhu qabilatan # imarotul qabaili quraisyan; sebagaimana dikatakan salah seorang Syeh dari suatu qabilah , pemerintahan atau imaroh qabilah-qobilah quraisy. Maksudnya menceriterakan keadaan kondisi Jazirah Arab khususnya daerah Mekah dan sekitarnya bahwa wilayah tersebut dikuasai oleh suku-suku secara kolektif yang disebut dengan Syeh atau Amir, tiap-tiap suku mempunyai daerah atau wilayah kekuasaan tertentu ada yang menguasai Ka’bah, menguasai Sumur Zam-Zam, menguasai Pasar Ukaz, mengasai alur jalan raya keluar-masuk kota Mekah, menguasai padang rumput musiman. Sedangkan kekuasaaan kerajaan besar yang nmenguasai sekitar Mekah dan Jazirah Arab, sebelah Utara Kerajaan Romawi, Timur Kerajaan Persia Sebelah Barat dan Selatan Kerajaan Habsy.

Amir atau Kepala Pemerintahan sebagai istilah yang terdapat dalam al Qur’an, sepadan dengan istilah Malik, Kaesar, Raja atau Presiden, yang harus ditaati setelah toat kepada Alloh dan Rasul-Nya, sebagaimana tersebut dalam surah an-Nisa.

#“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Alloh dan ta’atilah Rasul (Nya) dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jikia kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. QSA :4 ; 59

Itulah gambaran pemerintahan kolektif di jazirah arab pada masa jahiliyah sebelum kelahiran nabi Muhammad, ada satu syair jahiliyah lagi yang dilantumkan Ustaz Abdul Ajis bin Abdul Hamid

#“muhmarrotun mushfarrotun fakaanaha # ‘ushubun tayammanu fil wagho wa tamadhdhoru; merah dan kuning seolah-olah bunga-bunga, itu seperti bendera orang-orang Yaman dan Mudhor yang sedang berperang.

Syair Jahiliyah ini menceriterakan peperangan antara orang Adnan Quraisy Mekah yang dipimpin oleh qabilah Mudlor dengan orang Yaman wilayah kekuasaan Habsy. Pasukan Mekah menggunakan Sorban warna Merah sedangkan orang Yaman menggunakan Sorban warna Kuning, seperti mengayak atau mencampur aduk bunga mawar dengan bunga cempaka atau flamboyant.

Gambaran patriotisme dan nasionalisme Qurais ketika menghadapi serbuan tentara Yaman, dibawah pimpinan qabilah Mudhor yang didukung qabilah-qabilah yang lain, sama-sama menganakan Sorban Merah, kemenangan sudah pasti ditangan Mudhor.

3] Kalau aku jadi panglimanya pasukan Yaman, anak buahku akan kusuruh memakai dua sorban, sorban kuning diluar sorban merah didalam, hanya saja sebagian perisai atau pakai ikat perut warna kuning atau warna lain yang penting ada tanda untuk Yaman, begitu dekat dengan pasukan Mudhor kita lepas sorban kuning, pasti bingunglah pasukan Mudhor.

2] Itu namanya melanggar etika atau permainan perang.

3] Perang itu kan menang-kalah, yang penting menang …

1] Terus apa lagi kata Ustaz

3] Rupanya keluarga nabi Muhammad termasuk golongan terpelajar dan terpandang pada masa itu, waktu ibunda Aminah mengandung beliau, Aminah sering konsultasi ke ahli kesehatan wanita atau tobib kusus ibu dan anak-anak yang disebut as Syifa dan kelahirannyapun ditolong oleh as-Syifa ‘Umi Abdi Rahman’ namanya, ketika pusernya diikat dan dipotong lalu ditaburi serbuk berupa tepung bongkol kunyit India, ramuan ma’jun dari akar-akar buah bunga kulit biji tumbuhan, madu, nabis (perahan anggur yang difermentasikan) kalau gak ada nabis biasanya diganti air tape gandum sebagai obat habis bersalin penyegar badan untuk ibunya sehabis kelelahan mengandung dan melahirkan, sedangkan untuk bayi diberikan madu atau rubath (buah korma yang diperas dan dijemur hingga kental seperti madu).

Beberapa bulan kemudian bayi Aminah -Nabi Muhammad- disusukan kepada orang yang kebetulan habis melahirkan ‘Halimah Sa’diyah’ namanya dan air susunya kebetulan berkelebihan, jadi ia menyusu ASI hingga usia dua tahun lebih sedikit, tidak meminum air susu domba atau onta kecuali sehabis disapih.

4] Katanya Nabi Muhammad adalah keturunan dari dua orang korban yang akan dipersembahkan kepada Tuhan, pertama keturunan Nabi Ismail yang kedua keturunan Abdulloh. Abdulloh dinazarkan oleh Abdul Muntholib akan disembelih sebagai korban untuk mendekatkan diri kepada Alloh, namun Abdul Mutholib mencabut nazar/sumpah tersebut dengan cara diundi namanya azlam, dua batang anak panah dimasukkan dalam tabung layaknya mengundi arisan satu tertulis Abdulloh satu tertulis onta 10 ekor. Setelah diundi yang keluar nama Abdulloh berarti Abdul Mutholib harus menebus dengan 10 ekor onta, batang anak panah terus dikocok dan diundi hingga sampai 9 kaliyang keluar bertuliskan Abdulloh, berarti tebusan mencabut sumpah/nazarnya harus ditebus dengan 90 ekor onta, begitu undian ke sepuluh barulah keluar batang anak panah yang bertuliskan 10 ekor onta, dengan demikian berakhirlah undian itu dan Abdul Mutholib wajib menebus nazarnya dengan berkorban 100 (seratus) ekor onta sebagai pengganti korban terhadap Abdulloh putranya.

Tradisi bernazar atau berkorban kepada Tuhan, sebagai imbalan terkabul atau terpenehui do’a dan harapan, berupa menyembelih anak yang disayangi berlanjut hingga Nabi Muhammad di utus jadi Rasul. Tradisi milah Ibrohim seperti Towaf , Sa’i , Hitan dan berkorban masih saja berlangsung, bahkan Sahabat Abu Bakar dan Umar-pun pernah mengorbankan anak wanitanya sebelum mereka menjadi muslim. Milah Ibrohim di-revival/ihya’kan Nabi Muhammad dalam bentuk lain, hanya saja berkorban dalam bentuk/wujud manusia dilarang oleh Nabi Muhammad atas petunjuk dan bimbingan wahyu dari Alloh SWT.

3] Tapi ada sunnah Nabi dan ayat alQur’an ketika disampaikan Ustaz, bukan didengar bahkan disoraki karena tidak disukai oleh ibu-ibu, Alloh itu merintahkan kawin 4 atau 3 atau 2 kalau tidak dapat adil seorang perempuan saja.

2] Bukan itu maksudnya, bahwa Nabi Muhammad mensunahkan untuk menikah, tidak menikah atau tidak kawin pun tidak apa-apa.

4] Benar pak penghulu, bahkan ibu-ibu pada mengidolkan ibu rumah tangga seperti Siti Khodijah, sebagai istri pendamping suka dan duka Nabi Muhammad, berani berkorban jiwa-raga dan bendanya demi pada suami tercinta, boleh kawin semau suaminya asal setelah wafat dirinya.

3] Ini mengajari do’a jelek, agar istri yang tidak mau dimadu agar cepat-cepat mati.

1] Itu kan pemahaman Kuro, dan perkawinan atau pernikahan yang Sakinah adalah perkawinan yang seumur hidup, siapa yang wafat duluan yang hidup kalau mau boleh kawin lagi. …

-mic-