Rabu, 31 Desember 2008

Pergantian Tahun 2008 ke 2009 Masehi

Nuku’alofa Tonga, hari Rabu tanggal 31 desember 2008, waktu telah menunjukkan jam 23.59.51 serempak yang hadir diberbagai pangung, lapangan ditepi pantai maupun taman menyambut dengan teriakan 9,8,7,6,5,4,3,2,1, Aneka petasan bunga api, sirine, klakson mobil, beragam musik dibunyikan, semua bersorak menari berbusanakan aneka mode, champagne, bir apel muncrat kemana-mana ditengah tengah cuaca sejuk, disertai gemrisiknya gesekan daun kepala, untaian guntingan kertas timah, hempusan angin lautan Pasific yang cukup kencang, ombak bergulung bagai balok-balok turun dari tebing, memuntah iar ketepi pantai, semua yang hadir menyambut gembira.hari Kamis 01 Januari 2009.

Sementara di Dakka Banglades, waktu masih jam 18.00 waktu setempat, sebagian orang menikmati Sunset, turunnya matahari keufuk barat daya secara pelan perlahan, pergantian hari dari Rabu ke hari Kamis, suara bedug kulit kerbau dan sapi, juga kulit kambing yang lebih kecil, kentongan dari bongkol bambu juga terdengar, berlanjut suara azan dari berbagai masjid musholla TV dan radio saling bersautan, panggilan waktu sholat maghrib telah datang, bergegaslah mereka meninggalkan pantai, menuju masjid atau rumah.

Satu waktu dalam ruang berbeda, sama menantikan perubahan hari, Nuku’alofa ibukota Tonga, negara di tengah lautan Pasific, bertepatan dengan jam 12.00 siang waktu Greenwicth di Inggris Raya yang masih hari Rabu, sementara di Dakka Banglades pelaksanaan sholat maghrib untuk hari Kamis dan menyiapkan puasa sunah hari Kamis.

Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui @ dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehungga setelah (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. @ tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya @ QSA: 36; 38-39

Dua belas bulan disepakati sebagai setahun, dalam empat hari kurang,diminggu ini telah terjadi tiga peristiwa tahun baru, Hijriyah, Csaka dan Masehi

Hijrah diambil dari peristiwa exodusnya nabi Muhammad beserta para sahabatnya dari Mekah menuju kota Yatsrip, beberapa tahun kemudian berubah menjadi Madinah Nabi, penghargaan warga Anshor penduduk Yatsrib, secara terbuka melindungi mengundang untuk datang menetap di Yastrib kota moyang ibunda Aminah.

Makah sebagai kawah candra dimuka nabi Muhammad, latihan spiritual nabi dimulai berpuasa, berhalwat serta bertahanus, berulang kali berhari hari, seminggu dua minggu hingga sebulan. Awal pencerahan diperoleh di dalam guha Hiro’ waktu dhuha, bersamaan turunnya Surah Dhuha, sebagai surah ke 93 dalam Mushaf Usman, Mushaf Ali surah ke 81, Mushaf Ubay surah ke 86, Mushaf Ibnu Masud surah ke 89 dan Mushaf Ibnu Abbas pada surah ke 3 setelah surah Nun, sebagai pertamanya surah Iqra’.

Setelah menerima wahyu, otomatis Muhammad sebagai nabi dan rasul sekaligus kepala spiritual menuntun kaum mukminin muslimin sebagai yang dihendaki oleh Alloh. Puncak pengalaman spiritualnya, ketika Muhammad sedang bermalam dirumah saudara sepupunya, Umi Hani saudara perempuan Ali, ditengah malam yang hening ditemani Malikat Jibril untuk menjemput perintah Sholat Wajib 5 waktu dalam sehari. Nabi Muhammad berkendaraan Buroq sejenis Keledai, dipilhnya yang agak gantuk, sedikit kurus lemah lunglai. Berangkatlah Nabi menunggang Buroq dari rumah Umi Hani singgah ke Masjidil Haram sholat dua rekaat, terus menuju Masjidil Aqsho transito dan sholat dua rekaat, blast bertiga bagai Cosmonout dalam Soyuz menuju Sidratil Muntaha.

Madinah Nabawy, Kota Nabi, demikian kata kasepuhan kaum Anshor agar nabi Muhammad jangan pindah lagi dan menetaplah di Yatsrip. Atas petunjuk Alloh memang ia harus hijrah dan menyampaikan ajaran Islam. Tiga agama bersumber dari Wahyu ketemu disini, Yahudi, Nasrani dan Islam itu sendiri. Yahudi, Nasrani bagi nabi Muhammad sudah tidak asing lagi, ketika beliau masing bujang sudah sering ke daerah utara seperti Syam atau Syria dan sekitarnya, sudah biasa bertemu pedagang yahudi dan nasrani, bahkan Bukhoiroh seorang Pastur Gereja Jemaat Yerusalem pernah memprediksi, bahwa Messiah atau al Masih ada pada diri Muhammad.

Memang benar, Muhammmad mendapatkan kerajaan, kewilayahan, namun Nabi tidak menggunakan potensi itu dan hanya menyampaikan dakwah islamiyah sampai semenanjung arab menjadi muslim, terbebaskan kota Makah dan Toif dari kaum musyrikin.

Juga hari yang bersamaan menyambut tahun baru Csaka, dinisbahkan kepada Aji Csaka, pembaharu peradaban tanah jawa madura bali lombok, yang mempadukan budaya Pali dan Sansekerta menjadi satu simbul aksara, bersandikan Genthowiyanjono awal tembangnya dandanggula, pertemuan dua duta sama-sama menjaga amanah raja, terjadi duel sama-sama kena mimis atau tertusuk keris, seperti Djinggo tapi bukan Franko Nero.

Itulah aksara jawa, bahasa serat yang digunakan sastrawan sunda, jawa, madura, bali dan sasak. Aksara bervocal, hilang bunyi kalau dipangku, penuh sandang untuk berbunyi, dipagar juga mati ; hanacaraka datasawala padajayanya manggabathanga.

Kalendar Csaka perlahan terlupakan, dalam kurun setengah abad kurang disentuh dan sulit untuk disentuh, hanya sedikit yang dapat menyentuh, almanak dan primbon sebagai satu dari bentuk ensiklopedia dan ramalan ramalan penuh rumus symbol dunia bawana dan dunia langit milky galaxy, saling tarik mempengaruhi perilaku bawana dan isinya khususnya manusia, terpancar dari dunia agung milky galaxy dapat dibaca disana.

Biasanya, menyambut tahun baru Csaka ini, selain pesta gembira, makan minum bersama, hiburan semalam suntuk yang umumnya wayangan, atau pertunjukan sandiwara wayang kulit maupun golek, ada juga yang berkontemplasi mencerahkan pikiran, juga banyak menyuci barang pusaka, marangi, sebagai pertanda yang lalu penuh karat daki kotoran luluh lebur oleh asamnya jeruk-nipis asam jawa, brasso, bikinan empu yang harum mewangi kembang setaman.

Tahun baru, mata gasper kuning mengkilat, berikatkan kulit sapi asli bikinan Cibaduyut, berpiyamakan lengan panjang lurik, tidak pakai jarit, melilitnya susah, ada jarik kawung kolornya putus, habis dipakai orang hajatan, kini belum disambung, akhirnya pakai jelana Mustang warna hitam, melangkah kedepan menuju harapan baru.

Tahun Masehi 2009, yang dinisbahkan dengan al Masih, Isa putra Maryam, memang semenjak masih didalam kandungan Isa sudah dapat menjelaskan orang sekelilingnya bahwa ia adalah al Masih, Messiah atau Kristus dalam bahasa Arab, Hebrew dan Romawi berdialekan greek Kini tahun masehi atau dalam sebutan peristiwa yang biasa disebut setelah christus, sudah menjadi milik umat manusia seluruh dunia tidak memandang suku bangsa ras agama atau budayanya, sepakat memakai memakai bujur kota Nuku’alofa atau nol derajat bujur, sebagai titik awal hari pada pada pukul 00.00.01.

Senang gembira bahagia, menabuh yang dapat ditabuh, terompet ditiup, dari perayaan sederhana bakar ubi singkong minum air jahe hangat gula aren bakar ikan, ayam, bebek sampai bakar kambing guling, hampir pantai laut disetiap kota berkumpul kaum muda, tua dan anak juga ada, tiap RT Desa Kelurahanpun juga mengadakan.

Ada sekelompok pemuda mengadakan perayaan pergantian tahun 2009 ini , mereka beberapa orang mulai jam 23.00, sete;ah melaksanakan sholat isya membaca beberapa surah alQura’an diawali surah al Fatihah, Isroiil sesampai ayat 109 “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusu” kemudia mereka bertakbir sebagai tanda istirahat membaca al Quran dan bersujud tilawah dengan bacaannya “sajada wajhiya lillazi kholaqohu wa shaowwarohu wa syaqqo sam’ahu wa bashorohu bi haulihi wa quwwatihi fa tabaaroka_llohu ahsanul kholiqiin” kemudian duduk lagi melanjutkan hingga akhir ayat 111. takbir, baca surah al Kahfi sampai akhir, beberapa menit kemudian bunyi petasan terompet berbunyi, layaknya merayakan tahun baru, makan minumpun tersedia, habis pesta kita sholat malam, sholat lail dua rekaat.

Selamat Tahun Baru 2009, Semoga Setahun Mendatang Dalam Keadaan Baik.

(mic)

Minggu, 28 Desember 2008

Damar Wulan Ngarid 1430 H

Sehabis melaksankan sholat maghrib wirid do’a dan sholat ba’diyah, Maulana Ishak, memberikan lembaran-lembaran daun ental atau enau sejengkal panjangnya, lebar seibu jari, memberikan kepada setiap makmum yang hadir, masing masing diberi seikat sejumlah 180 lembar dan sebatang jarum kasur yang terbuat dari kawat. Maulana menjelaskan agar para jamaah menuliskan lafaz basmalah atau bimillahir-romanir-rohim, tiap lembar dua lafaz cara menulisnya ‘mim’ pada bismi, ‘ha’ pada Alloh, serta ‘mim’ pada rohman dan rohim, ditulis dengan kaidah khot nasah jangan rik’ah, mim dan ha’nya berlobang dan bersambung, seperti a dan o pada aksara greek. Kemudian mereka sama-sama membaca surah Yasin, shalat isya lalu menulis basmalah tersebut.

Kebiasaaan ini sampai sekarang masih dilanjutkan oleh sebagian kaum muslimin ketika memasuki tahun baru hijriah, dengan permohonan do’a maghfiroh kepada Alloh atas dosa kesalahan setahun yang lalu agar dimaafkan dan diampuni serta memohon hidayah dan maghfiroh untuk setahun kedepan.

Maulana Ishak, seorang mubaligh dan saudagar dari Gujarat India yang datang ke pulau jawa menetap dan mengajar agama islam, dibagian timur pulau jawa sekitar kota Blambangan,. Sebagai saudagar, sebagian dagangannya berasal dari Aceh Malaka Cina India dan Persia, ia menjajakan danganganya lima hari sekali pada satu tempat. Bersama pedagang lain, mereka menjajakan ditengah lapang dan memberi nama bazaar, jarak antara bazaar satu dengan bazaar terdekat sekitar tiga jam bagi pejalan kaki, tiap bazaar diberi nama -Bazaar Pon, Wage, Kliwon , Legi dan Pahing- sesuai dengan nama hari yang berlaku di tanah jawa.

Saudagar dari Malaka yang mengirimkan barang serta ikut berdagang di bazaar itu menamai sebagai bazaar_pekan sedangkan mereka yang berasal dari Portugis menyebut pasar_pon, wage kliwon legi dan pahing sebagai kelompok transaksi jual beli dinamai el pasaro de los communidad, jadi tiap bazaar atau pasar ada los pakaian, los raja kaya khusus ternak, los unggas, los pangan beras jagung gaplek biji-bijian, los janganan sayur mayur. Tiap los terdiri beberapa lapak yang menjual dangangan yang mirip atau sama. Dengan demikian tiap hari mereka membuka bazaar, namun tempat berbeda, sesuai dengan nama hari jawa pada hari itu.

Hampir tengah malam para jemaah sholat yang telah menyelesaikan tulisan basmalah dan menyerahkannya kepadanya. Setelah semuanya terkumpul, tiap orang menyerahkan ikatan lontar, atau ron_ental kepadanya, lalu dihitung sesuai dengan jumlah yang hadir dalam masjid itu. Dari jumlah lontar yang ada terdapat selisih dengan yang hadir, kemudian ia menanyakan siapa yang belum menyerahkan tulisannya.

Berdirilah Margono, seorang pemuda yang baru sekali ikut sholat bersama, kemudian maju menghadap maula Ishak mencium telapak dan punggung tangannya, sambil menunduk Margono menyatakan “bahwa ia mau ikut agama maula dan ngaji disini”. Maula Ishak menepuk punggung Margono, “baiklah sanak” jawab maula Ishak.

Maula Ishak membaca basmalah, mengucap salam hamdalah dan sholawat kemudian mengucap isti’azah, mengawali tausiyahnya, ayat yang dibacakan “Mereka bertanya kepamu tentang bulan sabit. Katakanlah: ‘Bulan sabit itu adalah tanda- tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang-orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Alloh agar kamu beruntung. QSA: 2; 189

Semua yang hadir mendengar dengan penuh perhatian, berlanjut maula Ishak berceramah tentang tahun penanggalan hijriyah, baru beberapa kalimat, tiba-tiba ada angin sepoi-poi masuk kedalam masjid membawa aroma nasi-samin serta sedapnya asap lemak-daging kambing yang sedang di sate, kemudian datang dihantar minuman beberapa kendil dan gelas dari bambu berfungsi ganda untuk minum sebagai gelas atau asbak rokok bila dibalik. Air jahe hangat manis gula aren sedikit lada dan sereh, penahan ngantuk penolak angin, dituangkan kedalam gelas bambu itu.

Maula tetap meneruskan ceramahnya, sementara yang hadir ada yang merokok, menyandar didinding sambil pejam mata, ada juga yang tangannya gatel merobek sambungan atau ujung tikar pandan, digigitnya bagai makan daun sirih yang terasa gurih bekas keringat tangan dan daki kaki serta sedikit apek. Tanpa terasa, lalu maula mengakhiri pengajiannya, kemudian memanggil Margono untuk maju kedepan. Ditanyalah ia oleh maula, kisanak !, apa yang kisanak pahami dari tausiyah tadi ?

Baiklah maula; putaran rembulan dari sabit kesabit dinamai sebulan, dalam setahun ada 12 bulan; Suro, Safar, Mulud, Ba’da Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Selo dan Besar. Tanggal 10 bulan Suro sunah puasa atawa siyam, bulan Poso sebulan wajib siyam, tanggal 8,9 bulan Besar sunah siyam, juga dibulan Besar kewajiban Kaji bagi yang mampu pergi ke Makkah.

Artinya kisanak tidak ngantuk, baiklah, nanti mengucap basmalah, kemudian membaca dua kalimah syahadat, kisanak kuberi nama Hilal. Margono sedikit usul untuk mudah memanggilnya, bagaimana kalau Damar Alit, sebagai dian alit, karena nama Purnomo, Purnomo Sidi, Badar atau Badary sudah banyak.

Nama yang cukup bagus, kata maula, baiklah akan kunamai yang tambah bagus dengan nama Damar Wulan Ngarid. Kisanak kan sebagai abdi dalem merawat kuda kavalri dan cari rumput, jadi kalo ngarit bikin daur sebulan, untuk dipotong kedua, sebulan itu sudah cukup memadai untuk dipotong lagi. Kedua, suara kisanak merdu dan pernafasannya cukup baik, nanti diajarai ilmu ‘arud, cara membaca qasidah, syair sesuai dengan jumlah kata yang terdapat pada tiap bait, juga panjang pendeknya yang disebut dengan bahar, pesan; senang sedih kasmaran kecewa takut serta harap penyesalan. Seperti dandangulo, asmorodono, puspanjana, pangkur, sinom, balok kintier dalam membaca sekar maca pat atau kembang gending pada karawitan.

Jadi kisanak Damar Wulan, abdi dalem pamong projo, bisa ngarit bisa ngarud, orang yang pinter ngarud disebut ngarid.

Hidangan telah siap, daun jati dan pisang dibagikan, didepan duduk sila yang hadir, nasi samin nasi putih telah siap empat panci/ngaron gerabah, dua ngaron gulai kambing, sate diatas anyaman bambo berlapis daun pisang ditopang dua batangnya, seperti dalang mau menancapkan gunungan maupun wayang-wayang.

Setelah menerima bimbingan dan diucapkan berkali-kali, mengucaplah Margono : “bismilllahir rohmanir rohim @ asyhadu alla ilaha illa_lloh wa asyhadu anna muhammadar rasululloh @ roditu billahi rabba @ wa bil islami dina @ wa bi muhammadin nabiya wa rasula @

Maula Ishak berdiri lagi, kisanak semua !, mari kita sambut kedatangan saudara kita Damar Wulan Ngarid, dengan ucapan marhaban bihudurikum, assalamu alaikum waraohmatulllohi wa barokatuh. Mereka mengucap marhaban dan salam, Maula mempersilahkan untuk menyantap hidangan yang ada. Setelah mereka menikmati dan membungkus untuk dibawa pulang, maula Ishak mengingatkan kepada mereka yang biasa mebawa dan mendagangkannya, jangan lupa besok kita di Pasar Legi.

Damar Wulan Kawin

Keahlian Damar Wulan membawakan arud dang gending, menjadikan terkenal tidak hanya didalam kraton Blambangan tapi juga sekitarnya, hampir setiap orang yang mengadakan hajatan mengundang santri Maula Ishak. Damar Wulan sebagai ‘Arid yang kreatif ia perpadukan antara gending dan arud, ia kembangkan jadi sandiwara berdialogkan tembang.

Pemuda pemudi mengidolakan, banyak gadis menaksir menaruh hati padanya, setiap hati handak mengarit sambil menggending suara pelan mengiringi langkah kakinya, setiap lewat depan rumah, selalu ada penyapa, 2,3,4 gadis terpaut dihati, satu jadi pilihannya, Sekar Mawar putrinya pak Suro.

Setiap sore menjelang mangrib, Sekar Mawar, duduk dibale rumahnya beralaskan tikar pandan. Dag dig dug, dag dig plas denyutan jantung ketika terdengar arudan tembang Damar, pemuda tumpuan hatinya.

Terbukalah benak hatinya ingin mengikuti agama rasul, agama islam, agar dapat ikut solat berjamaah dan ngaji bersama pemuda pemudi lainnya, lebih lebih biar dekat dengan Damar. Hasrat hati, disampaikan kepada ayahnya, pak Suro, yang kebetulan berbeda agama dengan maula Ishak. Pak Suro tidak keberatan, dipanngillag Sekar Tanjung dan Sekar Kenanga untuk menemani Mawar ke rumah Maula Ishak. Kenanga menyarankan agar, ayah, minta bantuan Damar untuk menemani mereka bertiga. Ketika Damar disebut Kenanga, dag dig dug jantung Mawar semakin keras dan cepat, sambil sedikit gemetar Mawar menyahut “iya ayah, itu lebih bagus”

Hari berikutnya Mawar sudah memulai belajar ngaji, Sekar_Tanjung Sekar_Kenongo belum, mulai menghafal menulis tanya jawab, dibalik tabir kain mori, pemisah bagi peserta putri. Damar diberi wewenang maula untuk membimbing memandu menghafal arud dan surat-surat alQur’an yang biasa digunakan sholat.

Tergeraklah Damar untuk menyampaikan isi hatinya pada Mawar, Mawar tidak menolaknya dan menyampaikan hal itu pada kedua orang tuanya, rupanya orang tuanyapun tidak keberatan, Damar melamar Mawar, pak Suro dan keluarga menerima.

Keluarga Damar dan keluarga Mawar telah mensepakati hari ‘H’nya, keduanya mohon ijin restu dan bimbingan kepada maula Ishak.

Penjelasan telah disampaikan maula kepada kedua santrinya, tentang syarat dan rukun dalam penikahan dan diberikan beberapa do’a kaitannya dengan perkawinan. Ikatan pernikahan atau perkawinan itu sah apabila rukun/pilar pernikahan itu terpenuhi ; adanya calon suami, adanya calon istri, adanya wali, adanya dua orang saksi, ada ijab-kabul, satu rukun/pilarnya tidak ada, tidak syah pernikahan itu.

Kebetulan pak Suro bukan muslim, sedangkan syarat wali calon_istri harus muslim, adapun tanpa wali pernikahannya tidak syah, Sekar Mawar menanyakan tentang perwaliaanya nanti.

Maula menjelaskan bahwa pernikahan atau perkawinan wajib adanya wali laki-laki dari pihak ayah, jadi ayah dan atau kakek “ayah bapaknya ayah, bukan ayah bapaknya ibu”. Ini disebut wali nasab kerabat pertama, tidak ada kerabat I pindah ke

kerabat kedua; saudara laki-laki seayah seibu atau saudara laki-laki seayah lain ibu atau anak laki-laki maupun cucu lalki-laki dari anak lelakinya, tidak ada kerabat II pindah ke

kerabat ketiga; paman atau saudara laki-laki ayah, se-ayah se-ibu atau se-ayah saja atau anak laki-laki paman atau cucu pama laki-laki dari anak paman yang laki-laki, tidak ada kerabat III pindah ke

kerabat keempat; saudara laki-laki kakek dari garis ayah, atau anak cucunya garis laki-laki, kerabat I, II, III & IV disebut Wali Nasab,

tidak ada wali nasab baru pindah ke Wali Hakim, jadi pernikahan kisanak berdua nanti menggunakan wali Hakim.

Bagaimana caranya ?, Tanya Sekar Mawar kepada maula Ishak

Kemudian maula Ishak membimbingnya bertahap-tahap; supaya diikuti apa yang diucapkan :

Tahap I, “ maula Ishak, saya neng Sekar Mawar putrinya pak Suro, telah dilamar kang Damar Wulan, saya menerima lamaran tersebut sedangkan wali saya, pak Suro, masih non muslim, mohon kiranya maula Ishak memberi jalan keluarnya”.

Baiklah, jawab maula; dan pernikahan nyi Sekar Mawar menggunakan Wali Hakim.

Karena di Blambangan maupun di Majapahit ini tidak ada Wali Hakim, maka kalian berdua mengangkat maula sebagai Hakim dalam perwalian pernikahan ki sanak berdua.

Sekarang kalian berdua ikuti saya,

Tahap II “maula Ishak kami, Dammar Wulan dan Sekar Mawar, sepakat ingin membina rumah tangga dan memulainya dari jenjang pernikahan, sedangkan wali_nasab pernikahan kami non muslim, selanjutnya kami mengangkat maula Ishak sebagai Hakim dalam perwalian pernikahan kami, dan kami ikhlas serta ridlo untuk dinikahkan”

Sekarang maula tidak dipanggil maula Ishak, akan tetapi dipanggil sebagai Hakim, dan hanya diucapkan calon istri atau neng Sekar Mawar, ikuti lagi

Tahab III“pak Hakim, saya neng Sekar Mawar putri pak Suro dengan ikhlas dan ridlo menyerahkan diri pribadi saya kepada pak Hakim untuk dinikahkan kepada kang Damar Wulan dengan mahar sekeping uang emas kontan”

Sekarang maula dengan kisanak Damar, neng Sekar cukup mendengarkan, ini jangan diikuti ya kata maula, iya jawab Damar.

Sambil menjabat tangan Damar, diijabkanlah ia kepada Sekar, setelah membaca khutnah nikah dan pesan takwa “kisanak Damar Wulan”, iya saya, jawab Damar, “saya nikahkan saya kawinkan kisanak kepada neng Sekar Mawar putri pak Suro dengan mas-kawin sekeping uang emas kontan” langsung dijawab oleh Damar “saya terima nikah dan kawin kepada neng Sekar Mawar putrid pak Suro dengan mas-kawin sekeping uang emas kontan” kemudian maula mendo’a “baroka-llohu laka wa baroka ‘alaika wa ja’ala baina kuma fil khoir”

Latihan pen-tahkiman, penyerahan dan ijab kobul cukup lama, dan diucapkan berulang-ulang agar nanti pada hari ‘H’ tidak canggung.

Tepat pada hari ‘H’nya, Sekar Mamar dengan paras penuh untaian bunga melati, wajah sedikit pucat kekuningan habis midodaren dilulur bedak dempo, diapit kedua orang tuanya, diiringingi tabuhan gong, kempul, terompet dan suling serta nyanyian gending kebo griwo menuju masjid. Sementara orang tua Damar Wulan tidak dapat hadir, karena ada tugas mendampingi Kebo Gadung, Adipati Rajekwesi, lagi pula saat itu hubungan Blambangan dan Mojopahit kurang harmonis.

Prosesi perkawinan berjalan lancar, suara qasidah dan sholawat dikumandangkan, nyanyian gending dilantumkan silih berganti.

Damar Wulan bermula tukang pencari rumput, menjadi peng’arud penghibur bagi orang yang pikirannya ruwet dan semerawut, tinggal sabitmu mengabadi di pucuk kubah dan menara masjid. (mic)

Rabu, 24 Desember 2008

Perkawinan Ibunda al_Masih

Sambil duduk bersimpuh Maryam, -aku mengucapkan namanya dengan lidah arabku sebagai kebiasaan me-nderes alqur’an tiap saat aku ada waktu- “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata : ‘Hai Maryam, sesungguhnya Alloh telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita didunia (yang semasa dengan kamu)” QSA : 3:42, ia berada diatas hamparan jerami gandum bersandarkan beberapa ikat, kaki lutut betis tumit jemari kaki sedikit_jarang digerakkan, green green gress at kitchen kresek kresek kresek. Suara lirih gesekan batang jerami kering tebal empuk hangat memantul, dirasakan Maryam bagai kasur empuk.

Gadis Monalisa, itulah benak pikiranku ketika memandandang foto gambar maupun patungnya. Monalisa, gadis beraut wajah sedikit senyum terkulum antara pipi sedikit lesung, mata sayu memandang, memancarkan tanda tanya bagi penikmat tarian kuas jari Leonardo da Vinci. Muka raut wajah bola mata Monalisa yang menyimpan bermacam misteri, harap cemas kawatir takut lesu dan bahagia.

Harap, mengharap sang kekasih dapat menerim dirinya, pendampin hidup, lelaki pelindung dirinya juga anak-anaknya.

Cemas, memang cemas berjam-jam duduk didepan da Vinci tanpa menyandar, menahan buang angin kencing maupun tinja, agar lingkungan yang harum semerbak penuh cat tak tercemari.

Kawatir, kalau sang maestro tak dapat menyelesaikan tampilan dirinya, atau kehabisan cat dalam mengoles alis bulu bola mata, celah-celah bibir merekah berdagu ovalnya.

Takut, kaalu ada pemuda_gadis yang tak suka pada dirinya dan da Vinci, ditengah membara kasih birahi menanti duduk dipelaminan berdua, mem-bidadari menjemput datangnya esok.

Lesu, memang orang tua menyuruh tarak, diet atau puasa, untuk menghilangkan lemak sisa pembakaran dalam darah, menumbuh gerakan darah muda penuh ion-ion hawa, pancaran aura tubuh dirinya menarik magnit electron pengunjung, sedikit sayu tersimpan dalam senyuman.

Bahagia, expresi tak tersimpan tumpah memberi, terpenuhi tumpukan harapan, terobati sakit dalam kesendirian, senyum selamat dari ketidak pastian, gadis perawan sebagai julukan, orang tua menjadi kepastian. Kebahagiaan berakar dari hati rasa bagi peraba, penghapus duka, tiada dapat terucap dengan kata aksara.

Sambil membelaikan telapak tangan diatas kepala ubun-ubun anak lelaki yang baru dilahirkan dan membelainya, bola matanya mengarah ke sela sela papan penutup pintu kawatir kalo-kalo ada orang yang menganiaya dirinya. Timbul rasa cemas akan keselamatan bayinya serta kawatir tetangga dan lingkungannya tidak menerima. Badannya terasa lesu lelah sehabis menguras tenaga dalam proses pesalinan yang baru dijalaninya, ditambah kurang tidur kecapaian dalam perjalananan, hanya makan sedikit buah kurma.

Semua pupus hilang sebuah kebahagiaan ‘ana abdullah’ sebuah kata yang terucap dari mulut anaknya yang masih ada sedikit air plasenta agak mongering diantara dagu lehernya. Dinamai anak tersebut Isa, sebagai ia menamai dirinya sendiri ketika masih dalam kandungan, sedang tetangga kerabat atau orang pendatang memanggil, Ysei, Ysos dan Yeses maupun Yesus putra Maryam. Komunitas Palentina, termasuk juga Nazaret, pada waktu itu terdiri dari bangsa Smith, suku Ibrani, Syuryani dan Arab, juga ada sebagian kelompok Kypt, Hexos dan bangsa Roma juga Greek.

Kelahiran Isa anak Maryam, membawa peradaban baru didunia sejalan dengan lahirnya peradaban baru dari Eropa.

Sebuah pemikiran tentang metafisika yang sangat sulit dipahami masyarakat awan, sebuah lompatan pemikiran dari alam fisik ke alam metafisik, memang sedikit sekali yang terpelajar, mereka umumnya sangat erat tergantung pada alam dan tak berdaya menghadapi alam, pemikiran hubungan Pencipta, penciptaan dan ciptaan. Isa putra Maryam, sebagai jawaban teologis kongrit gagasan pemikiran Plato, juaga para muridnya, yang hanya dipahami oleh sebagian kecil orang terpelajar pada waktu itu.

Maryam sambil menggendong anaknya dalam pangkuan kerebahan menyandar, menikmati kebahagian sebenar_benar bahagia, apalagi anaknya dapat diajak ‘dialog’ baik masih dalam kandungan juga sehabis baru lahir, sebagai mukjizatnya.

Hari menjelang sore, mulailah Isa merasakan lapar hausnya, diunjukan puting payudara ibunda pada bibir anaknya “bismillah” dalam hati Maryam, mulailah Isa menghisapnya sampil memainkan jari tangan kirinya meremas puting kanan ibunya. Mungkin Maryam lupa membawa kain bedong karena harus terburu-buru meninggalkan rumah orang tuanya.

Dialog jiwa rasa antara keduanya, ditopang bahagia, tiada terasa mengalirlah getaran kebahagiaan keseluruh tubuh jaringan sarafnya. Setiap hisapan air susu menghilangkan rasa pusing kepala dan lelah serta merangsang tumbuh produksinya kekebalan dari tubuhnya. Dalam rahimnya yang baru melahirkan secara pelan perlahan keluar semua sisa air ketuban diiringi serat_lendir bening kekuningan pembersih rahim penyembuh luka, sama seperti sebelas bulan sebelumnya.

Perlahan-lahan genggaman tangan kirinya dilepaskan, tinggal bibir mulut sedikit agak jarang
mengenyot, tidurlah Isa dalam dekapannya. Sambil menerawang sesekali mencium keningnya, teringatlah akan teman kerabat seperti Magdalena, Gracella, Elisabeth, Maryeh, Misalina, Helda, Nareth, Zaretha apalagi malam itu merekalah yang menemani, sedikit menggoda bercanda, hari esok akan menerima pinangan Yusuf pemuda soleh, putra kerabat orang tuanya yang soleh pula, sebagai keluarga para nabi.

Magdalena menyisirkan rambutnya yang sedikit ikal dibiarkan terurai mengembang, Elisabeth merapikan ujung kuku kaki tangan dan giginya sedikit dipangur serta memasangkan pacar merah darah pada kuku_kukunya, ada yang memasang pernik-pernik pada zube_gaun yang hendak ia pakai, Zaretha bersihkan bulu kalong sekitar pelipis kuduknya.

Kini mereka tak satupun mau menemani, takut kawatir dibenci masyarakat tetangga, itu disadari oleh Maryam, yang sebulan lagi, kalau Tuhan tidak memilihnya sebagai orang suci yang akan melahirkan Isa, ia akan melaksanakan pesta perkawinannya.

Pertunangan berjalan lancar dilaksanakan di dalam masjid, yang merupakan Balai Umat sedangkan mihrab kamar-kamar disekelilingnya untuk menampung musafir menginap atau orang yang hendak berhalwat, dipakai menampung keluarga Yusuf. Kedua keluarga saling memperkenalkan, saling meminta_menyerahkan kedua anaknya, disaksikan Nabi Zakariya dan Yahya, nyanyian kidungan Tauroh dikumandangkan ditutup doa oleh Nabi Zakariya, orang tua angkatnya yang bukan orang Yahudi.

Pertunangan disini sama dengan perkawinan ‘bawah tangan’ istilah bagi orang yang tidak mencatatkan perkawinannya pada pejabat fungsional yang bertugas memncatat perkawinan.

Adab dan aturan yang berlaku khususnya komunitas Ibrani atau Yahudi, pesta perkawinan hanya dapat dilaksanakan setelah satu tahun dari pertunangan. Bagi komunitas Arab atau Suryani tidak seketat itu. Yusuf dan Mariyam bukan komunitas Yahudi tetapi Suryani. Itulah mengapa orang Yahudi mengangap Isa anak perzinaan bukan anak Yusuf, dan memang bukan anak Yusuf, karena dalam masa tunggu setahun Mariyam telah hamil dan melahirkan Isa belum genap setahun dari pertunangan.

Administrator Agama untuk wilayah Palestina dipimpin oleh para Sanhedrin Yahudi atau para Imam maupun Rohib, yang ditunjuk oleh penguasa atas nama Kaisar Pemerintahan Romawi

Pertunangan Yusuf dengan Mariyam sudah dapat dianggap sebagai rangkaian perkawinan, lelaki lain sudah tidak dapat meminang Mariyam, dapat meminang Mariyam kalau Yusuf sudah memutuskan ikatan pertuanangannya ataupun dapat juga dari pihak Mariyam, dengan kata lain keduanya cerai terlebih dahulu, konsekwesi logisnya dari perceraian putusnya tali pertunangan mereka berstatus duda maupun janda.

Lamunan Maryam terbangun, setelah pusernya terasa ada air hangat mengalir, rupanya Isa sedang pipis, ia bergegas berdiri mengambil kain lain yang masih ada untuk mengganti kain popoknya.

Mukjizat Bagi Maryam dan al Masih

Maryam ketika diasuh Nabi Zakariya sudah ada tanda tanda keistimewaan, ketika Maryam masih bayi pernah diajak berhalwat dalam mihrob masjib, waktu sejenak ketika ditinggal Zakariya mengambil air wudlu, keajaiban ada disisinya berupa buah-buahan dan makanan lunak. Sebagai wanita yang soleh dan to’at ia telah lulus dari ujian sebagai orang sabar yang mukhlasoh, sama persis, istri Firaun musuh bebuyutan Nabi Musa. Begitu juga al Masih ketika masih dalam kandungan telah mampu menapik tuduhan yang dialamatkan kepada ibunya, ketika masih bayi dalam ayunanpun sudah dapat berbicara dengan orang lain siapa dia sebenarnya. Ibunya, Maryam, tidak perlu menjelaskan, cukup mengisaratkan penanya kepada kandungan maupun bayi yang ia gendong.

@ “Dan ceritakan (kisah) Maryam didalam Al Qur’an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat disebelah timur.

@ maka ia mengadakan tabir (yang menlindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma dihadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.

@ Maryam berkata : “sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”

@ Ia (Jibril) berkata : “sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu anak laki-laki yang suci”

@ Maryam berkata : “bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina !”

@ Jibril berkata : Demikianlah, Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami, dan hal itu adalh suatu perkara yang sudah diputuskan”

@ Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. QSA : 19 : 16 – 22.

Renungan Kurokandas menyonsong liburan Natal

Dari Kurokandas Untuk Ustaz Masud CHATIM,

Selamat menikmati liburan cuti bersama dihari lebaran Hari Natal.

Sabtu, 13 Desember 2008

Kurokandas akan Nikah

Assalamu’alaikum, kata ku, ketika berdiri didepan rumah Pembantu Penghulu HA.Karim, orang memanggilnya modin Kayim. Kuulangi lagi; assalamu’alaikum pak modin, belum ada jawaban kuulangi lagi ; assalamu’alaikum pak Modin, “alaikum salam” suara wanita dari dalam rumah yang membalasnya, rupanya istri pak Modin.

Pak Modin ada bu ? kataku kepada bu Modin.

Ada !, katanya sambil menjempolkan tangan kanannya kearah kursi sebelah pintu, sebentar ya,,, sambil membalikkan badannya terus berjalan menuju ruangan dalam rumah, tak seberapa lama bu Modin menenteng gelas dan lepeknya, terus menuangkan airteh yang sudah ada di atas meja sejak tadi, diminum ! sambil menjempolkan tangan kanannya,,,

Terima kasih, iya bu,,, kataku “memamng bu Modin tiap hari telah siap airteh pahit panas satu ceret dua setengah literan, beralaskan merang jerami padi yang dikepang bagai konde berdiameter 20 cm, dibungkus sarung berdalaman kapuk randu setebal 2 setengah cm penahan suhu panas penangkis angin agar suhu air tidak cepat dingin”

Mau kawin ya ?! katanya, sambil tersenyum, dan nampaklah satu gigi bu Modin ada yang ompong dibagian taring kirinya. Kapan ya ?! sambil meletakkan telunjuk kirinya dibawah hidung menekan bibir atasnya agar bibir atasnya tidak terbuka lebar.

Iya bu, hari Ahad tanggal 15 Suro dua pekan lagi, kataku, sekali jawab untuk dua pertanyaan.

Ehem ehem, ehem ehem, ehem ehem, suara batuk tertahan diparu-paru pak Modin terdengar dari dalam menuju kami, berjalan sambil menggulung sarungnya bekaoskan oblong warna putih pakai peci haji bersulamkan bunga sedelapan, kelihatan jambul rambut depannya yang sedikit sudah beruban bagai burung jalak bali, mengenakan baju koko yang kancingnya belum dikailkan, nampak agak panjang sebelah, rupanya kantong kanannya terbebani sebungkus tembakau 87 kertas shak dan korek bensin, sebelah tangannya menenteng buku catatan, kemudian duduk berhadapan denganku, dikeluarkan tembakau dan koreknya, diamlnya secumput tembakaulalu dilintingnya mengerucut sambil dijilat pinggi papernya dan diputar lalau disulutnya, ehem ehem ehem batuk serak basah, tertutuplah wajah dengan asap rokok, eh eh eh eh menahan batuknya.

Gimana kabar abah ?!, tanyanya , alhamdulillah baik dan sehat, jawabku

Sudah mimpi ?!, tanyanya kepadaku, mimpi apa pak ?! balik aku bertanya bukan jawaban yang kuberikan. Sudah bisa mandi besar ?!! pertanyaan lagi kepadaku “memang ada mandi kecil_besar gitu?!” balik kutanyakan. Masih suka ke Musolla ?! “memang disebelah rumah ada Musolla yang biasa digunakan shalat berjamaah pada waktu maghrib isya dan subuh, zuhur dan ashar kadang_kadang”. Iya pak! maghrib dan isya, subuhnya banyak jarangnya, kesiangan terus ni pak alias karipan. Umurnya berapa ?! 23 th, jawabku cepat.

Nama lengkap dan alias, sambil membuka buku catatannya, matanya memperhatikan bibirku. Kurokandas alias Ahmad Karim, jawabku; hampir sama dengan pak Modin katanya. Nama bapak Abdul Karim sedang kamu Ahmad Karim. Lho bukan pak Kayim to pak tanyaku, iya sama saja, Kayim nama panggilan bapak waktu kecil, memang abah kamu menamai anak-anaknya hebat banget, kakakmu si Nogoteja, satunya Diponotopraja. Lha adik kamu siapa namanya ?! Belokaripan pak, jawabku. Iya bapak tahu lahirnya waktu itu kalo gak salah bapak mau pergi mendaftarkan ke KUA, ya sekitar jam 7-8 pagi.

Tanggal lahir ?!, 18 Oktober 1985 jawabku,

eeeeeeeeeeee 85 Astaghfirulloh al adziim, ucapan latah bu Modin, lalu berdiri sambil lari kecil ke dalam sambil mengucap alhamdulillah belum gosong, katanya dari dapur. Tak seberapa lama bau aroma wanginya intip nasi agak gosong, rupanya bu Modin sedang meninggalkan nasi aron diatas kompor, juga terdengar bersin beberapa kali dari dapur.

Berlanjut pak Modin bertanya sekolah terakhirku, kujawab, SMK jurusan teknik mesin

Pak Modin : pantas ujung tangan dalam kukumu tampak hitam, itu menandakan mencucinya kurang bersih, kerjamu di bengkel ya ?

Aku : iya pak dibengkel kang Marjan.

Pa Modin : begini Ro, kalau kamu akan sholat, pertama kamu harus toharoh dari hadas besar kecil dan wudu.

Aku : iya pak, itu sudah kuperoleh ketika belajar di SMP maupun di SMK

Pak Modin : iya, tapi dalam pengamalannya masih kurang, buktinya itu tangan kamu masih ada benda yang menghalangi air wudu, juga dalam mandi, berarti wudunya kurang sempurna.

Aku : tapi sudah berusaha maksimal tapi tak mau hilang

Pak Modin : benda apapun yang menempel pada anggota wudu , muka tangan kaki, apakah berupa cat lem minyak getah_nangka lem_isolasi sisik ikan bandeng maupun oli, apabila menghalangi air wudu maka wudunya tidak sempurna, kalo wudunya tidak sempurna, gimana sholatnya?, hayo ?

Aku : terus gimana pak ? sudah pakai sabun berulang kali masih ada yang nyisa.

Pak Modin : bapak pernah ngaji dulu, kata kiyai, debu tanah pasir selain sebagai salah satu sarat menghilangkan najis liur anjing yang menempel pada badan maupun benda lainnya seperti piring lepek jelana maupun alas meja, juga dapat menghilangkan barang yang berminyak yang menempel pada badan maupun kain. Begini caranya, basahi tangan kamu kemudian bolak balikkan pada debu tanah, atau ambil segenggam debu tanah pasir itu lalu masukkan pada gayung dan beri sedikit air seperti bikin adonan kue, lalu ujung tanganmu yang nampak hitam itu bersihkan dengan kuku kukumu atau lidi korek api, nah sekarang coba, biar lebih paham.

Sementara aku mengambil debu, pak Modin mengambil ember kecil dan sedikit air dalam gayung. Aku mulai memainkan jemariku seperti mencari kutu rambut atau ketombe, juga seperti ngupil korong hidung maupun telinga, dan memang benar bercak bercak hitam yang menempel di selasela kukuku hilang

Pak Modin : itu juga dapat kamu gunakan membersihkan pakaian kamu bila kena oli atau gemuk oli, caranya, adonan debu tadi sebagai sabunnya, bilas, baru pakai sabun beneran.

Aku : wah, lumayan dapat tambahan ilmu.

Pak Modin : jadi,,,,,, mau nikah itu tidak hanya mengurus persyaratan administrasi, juga persiapan dalam perjalanan pernikahan atau berkeluarga nanti, utamanya bebersih wudu mandi wajib serta mengauli istri.

Aku : ya Pak, tolong dibimbing

Pak Modin : coba ucapkan dua kalimah syahadat

Aku : assadu alla ila_ha illa_lloh, wa assadu anna muhammadar rasulu_lloh.

Pak Modin : nah, ini yang sering bapak dengar, kalo ngucapkannya terlalu cepat, huruf ‘ha’nya ketinggalan, arena kita sering meninggalkan huruf ‘ha’ dalam percakapan kita. Seperti Harimau, jadi Arimau, motor Honda terucap Onda, Hukuman => Ukuman, Hotel => Otel, Hujan => Ujan, ini hanya contoh.

Aku : iya juga ,

Pak Modin : coba diulang lagi,

Aku : assadu alla ila_ha illa_lloh, wa assadu anna muhammadar rarulu_lloh.

Pak Modin : coba dengar dan lihat bibir bapak “ asy..ha.. du, asy…haa..haa…haa

Aku : (dalam hati; ‘ha’nya pak Modin badeg amat, kaya bangkai cicak) iya pak, (sambil gigit gigi menahan ketawa, rupanya pak Modin menyadari lalu ia duduk agak mundur, kemudian aku ulangai seperti pak Modin) “ asy_ha_du, asy_ha_ha_ha_ha_ha_du alla ilaha illa_lloh wa asy_ha_du anna muhammadar rasulu_lloh, (aku ulangi) “asy_ha_du alla ilaha illa_lloh wa asy_ha_du anna muhammmadar rasulu_lloh (pak Modin memalingkan sedikit mukanya, rupanya ‘HA’ku juga badeg, dan memang aku tadi sarapan ketupat sama semur tahu dan jengkol, tidak sikat gigi lagi)

Pak Modin : lha begitu baru pas benar, diminum airnya.

Sementara aku dan Pak Modin minum, dan melanjutkan saling merokok, sambil merokok pak Modin memainkan bola matanya kekanan-kiri serta mengangkat dagunya sedikit keatas, entah apa yang sedang dilihat dan dipikirkan.

Aku : ehem, ngomong-ngomong sementara cukup dulu pak nanti minta dibimbing lagi,

Pak Modin : iya, tapi lengkapi dulu copy KTP dan Ijazah terakirmu, lalu kita ke Kelurahan.

Aku : ya Pak, terima kasih permisi dulu, assalamu’alaikum, sambil kujabat tangannya.

Pak Modin : salaam, kalo dapat sebelum zuhur ya…!

……………….bersambung…………..


Minggu, 07 Desember 2008

Pertanahan Ilahi

Sambil menekankan lipatan sorban ke kedua pelupuk mata agar airmata tidak membasahi muka, Abdullah Ibnu Abbas, biasa dipanggil Ibnu Abbas sangat terharu sedih karena cintanya kepada Rasululloh Muhammad SAW. Ia terus memperhatikan dan menyimak khutbah Rasul setelah melaksanakan ibadah hajinya yang terakhir atau haji wada. Ibnu Abbas semakin sedih bermuram durja, sambi bertanya tanya dalam hati apa gerangan yang bakal terjadi setelah Rasululloh kembali pulang ke Madinah Munawaroh.

Sehabis membacakan ayat tersebut kepada para sahabat yang hadir disitu, cerah ceria gembiralah mereka , kini lengkap sudah agama islam yang diridloi Alloh. Namun, bagi Ibnu Abbas menjadikan dirinya semakin sedih murung dan meneteskan airmatanya. Khutbah selesai, turunlah nabi dari mimbar, yang kebetulan berupa tanah cadas membukit kecil sebesar rebahan gajah. Para sahabat terus berdatangan menyambut Rasul, cium tangan berpelukan satu persatu, giliran Ibnu Abbas, ia cium kedua telapak tangan Rasul juga punggung telapaknya, ia pandang wajah Rasul tanpa kerdipan tidak ada kata yang terucap hanya bibir sedikit tergetar, tanpa sadar melelehlah butiran airmata lalu Rasul memeluknya begitu juga Ibunu Abbas memeluknya erat_erat sambil membisikkan suaranya terbata-bata ketelinga beliau ‘ya Rasul jangan tinggalkan kami’ diciumlah pipi rasul berulangkali terakhir dengan mencium kening beliau.

Setelah berkhutbah rasul mengajak para sahabat ke tanah lapangan sambil membawa lidi daun kurma, dipilihlah tanah yang agak datar sedit berpasir. Beliau mengoreskan ujung lidi itu beberapa titik, kemudian beliau menjelaskan inilah batas tanah haram, darimana umat islam yang hendak melaksanakan ibadah haji maupun umroh memulai berihram, disebut sebagai miqat makani. Sambil menjelaskan kepada para sahabat yang hadir disitu Ibnu Abbas memperhatikan dengan penuh perhatian dan mengikuti penjelasan rasul, ia mengikuti dan membuat goresan didepan duduk silanya, ia membuat garis garis lurus diantara titik titik yang telah dijelaskan Rasul sambung menyambung, menjadi sketa peta sederhana.

Rasul selanjutnya menjelaskan : titik ini Dzal Hulaifah; bagi yang datang dari Madinah, ini Juhfah; bagi yang datang dari Syam/Syiria, ini Qornul Manazil; bagi yang datang dari Najd, dan ini Yalamlam; bagi yang datang dari Yaman, adapun bagi penduduk Makkah maka miqatnya dari tempat tinggalnya, yang dekat dengan miqat lebih baik memulainya mundur dari salah satu empat miqat yang telah disebut. Sedangkan bagi Penduduk Makah atau jemaah haji yang akan Ibadah umroh maka miqatnya diutamakan dari Tan’im, Ji’ronah atau Hudaibiyah.

Menurut sebagian ahli tentang islam WM Watt misalnya, ini merupakan awal mulanya sistim administrasi keagrariaan “terutama menentukan batas tanah haram (daerah suci) Mekah“ Djohan Effendi 1982, hal 210.

Kelang beberapa bulan, antara bulan Zulhijah dan safar

Renovasi Revivalisai Rekonstruksi

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, sebaik-baik keadaan umat islam adalah pada masaku, kemudian masa setelah aku dan seterusnya, masa yang dimaksud disini masa seabad atau seqorn setara 100 tahun. Nabi Muhammad telah mewariskan nubuwahnya kepada para ulama berupa rohnubuah. Agama sebagai kenyataan lembaga, mempunyai wilayah rohani tersendiri, islam, demikia juga agama yang lain, agama tidak memiliki wilayah teritorial, tetapi dapat mewilayahi teritoriale tertentu dan dapat berpindah dari wilayah yang satu kewilayah yang lain.

Ibadah haji merupakan kewajiban ke lima dari rukun islam sebagai yang telah disampaikan Muhammad kepad Malaikat jibril dengan disaksikan para sahabatnya. dalam dialoge tersebut disebut kerangka dasar agama islam; Iman Islam dan Ikhsan. Masing masing kerangka dasar tersebut memiliki pilar-pilar.

Ibadah haji sebagai ibadah napak tilas, utamanya napak tilas perjalan Adam dan Hawa setelah exile dari surga, satu dengan lainnya turun di tempat yang berbeda, akhirnya mereka bertemu di padang arofah hingga akhir hayat di dunia, meninggalkan anak cucu bani Adam beserta warisan semua yang ada dibumi, apa yang ada di darat maupun dalam perut bumi dan laut, luar angkasapun boleh dimiliki, semuanya telah diserahkan Alloh kepada Adam untukdimiliki dan dibudidayakan. Oleh Adam semuanya diserahkan kepada Hawa sebagai ,Mahar, maskawin pernikahan mereka berdua, oleh Hawa semuanya diwariskan kepada anak cucu mereka.

Ibadah haji juga dapat dijadikan sebagai perlambang proses kekhalifahan Adam dimuka bumi, awal langkah towaf yang dimulai dari sudut Hajar Aswad, dengan mengangkat tangan pada hajar aswad, disini orang yang sedang tawaf mengingatkan akan Nabi Adam ketika menerima amanah serta kesediaanya serta izin kepada Alloh untuk menjalankan amanah tersebut. Tawaf dan sa'i dijadikan awal pertama proses perjalanan dari alam surgawi, alam metafisik, kealam duniawi, alam fisik. Makanya banyak kaum muslimin yang sedang berada di Masjid Haram berebut mencium hajar asad, sebagai perlambangan kesediaan mereka untuk mengemban amanah yang dibebankan Adam.

Telah puluhan ribu tahun Bani Adam mendiami bumi, telah ribuan macam hiasan dan bangunan ditegakkan, ribuan macam bangunan telah hancur rusak punah dan ada yang sudah hilang, baik rusak oleh tangan mereka sendiri ataupun oleh alam yang tidak bersahabat. Perkembangan pemikiran maupun estetika dan kenyamanan, membuat kreatifitas manusia memake up bumi juga merecovery akibat luka bencana alam. Bumi tidak akan dapat dibentuk kubus amupun trapisium, ia hanya dapat direkonstruksi sejalan dengan blueprintnya, komposisi ukurannya tak dapat melenceng dari blueprint dasar. Menyimpang dari blueprint dasar akan terjadi gejolak, gejolak yang ditimbulkan adanya perpindahan komposisi bumi akan membawa gejolak pada kehidupan diatas bumi termasuk manusia.

Agama memiliki kerangka ajaran dasar, juga islam, sebagai ajaran dan diamalkan oleh pemeluknya, dimana kapan bagaimana siapa saja, ini semua telah ditafsirkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad adn telah disaksikan oleh para sahabat penganutnya.

Agama islam yang universal telah membumi mengabad menjadikan pengamalan agama menjadi agama yang terbatas dan dibatasi oleh kondisi yang ada, pada kondisi yang satu dengan yang lain nampak dipermukaan terdapat adanya perbedaan. Namun tutup permukaan yang berlapis lapis dapat dikelotok satu persatu hingga nampak blueprint ajaran dasar, bila blueprint ajaran dasar tidak nampak berarti telah pindah kewilayah lain, atau hilang sebagian pilarnya.

Ibadah qurban, dalam rangkaian pilar kelima keislaman, umumnya merupakan persembahan bertujuan merevivalisasi komponen jasadi yang rusak hilang punah dari komposisi kebutuhan dasar. Komposisi pilar agama komponennya ada yang rusak hilang atau mungkin punah oleh kondisi yang menarik dan mempengarui.

Makanya tiap abad, sebagaimana prediksi Nabi Muhammad akan terjadi rekonstruksi agama, yang diserahkan kepada para ulama yang peduli dan yang telah menerima rohnubuah, sebagaimana yang telah disampaikan Nabi dalam khutbah selamat jalan agamaku pada waktu pelaksanaan haji wada.

Mudah-mudahan daging korban yang kita konsumsi dapat mengantikan protein dan gizi yang yang telah hilang, semangat baru menuju satu titik w,u,k,u,f, tidak keluar dari batas wilayah tanah wukuf, haji mabrur baginya hanyalah surga.


Sabtu, 06 Desember 2008

Ismail Selamat

Sambil membawa pedang yang masih dalam sarungnya, sementara Ismail anaknya mengiringi dari belakang dengan berjalan setengah lari, sampailah mereka di tempat yang telah dipersiapkan Ibrahim ayahnya. Disitu ada beberapa batu untuk berlindung agar tak terlihat daari tempat seberang sedang apa mereka berdua. Ibrahim mengambil kulit leher unta yang telah disamak, yang biasa ia pakai sebagai igal penutup kepala agar rambutnya yang gondrong tidak tidak berderai dihembus angin. Dipakaikan kulit itu untuk menutup mata Ismail sambil diganjal daun korma yang baru pungutnya, dilipat beberapa lipatan sebagai ganjal atau kunci agar tidak longgar, membatasi padangan Ismail. Ismail disuruh duduk berlutut dan meletakkan kedua telapak tangannya diatas kedua pahanya dengan kepala sedikit menunduk

Ibrahim mengambil kantong air yang terbuat dari kulit kambing, ia meminum beberapa tegukan, sambil menerawang kearah utara, mengingat masa kecilnya di Delta Eufrat. Terbayanglah, bagaimana raja Namrut ketika hendak berkorban untuk kerajaannya, ia cari wanita muda yang tercantik di jadikan sesaji sembahan agar kemakmuran tetap ada. Banyak para wanita muda adatang ke kerajaan dengan bangga dan rela agar merekalah yang dipersembahkan, mereka berkeyakinan pasti akan bersama dewa_dewi dilangit. Terbayang pula akan nasibnya ketika dibakar sebagai hukuman yang ia terima akibat pengrusakan patung patung milik umum, serta pengusirannya hingga sampai di lembah yang tandus akibat kejatuhan meteor pada waktu dulu.

Menengok agak ke barat laut teringatlah ia akan isteri yang ia sayangi, Sarah, walaupun ia sendirian akan tetapi kesendiriannya banyak tetangga lagi pula Palestine tidak jauh dengan Delta Eufrat. Di Palestine pelaksanaan korbanpun tak beda jauh dengan apa yang dilakukan Raja Namrut, mereka melaksanakan korban juga dengan dibakar. Seperti kalkun angsa kambing maupun sapi, sedangkan korban bagi keselamatan kerajaan sama juga, seorang atau beberapa wanita yang terjun ke dalam nyala bara api, sedangkan pelaksanaan korban dijazirah yang baru ia tempati ini dengan disembelih atau dikubur hidup_hidup, mungkin sulit untuk mencari kayu atau arang, atau watu itu lelehan lantung minyak fosil belum ada.

Sambil duduk menerawang serta membolak balikan pedang goloknya, tiba tiba Ismail anaknya bersin ada debu rumput masuk hidungnya “huaa hiiing” dan mengucap ‘alhamdu lillahi’ dibalas Ibrahim ‘yarhamukalloh’ Ismail melanjutkan ‘yahdikalloh’.

Pedang diletakkan di atas kulit igal kepala Ismail, denga terasa adanya pedang diatas kepalanya, Ismail mengucap ‘inna lillahi wa inna ilaihi rojiun’ badan Ismail dingin pucat pasi serta mengeluarkan sedikir air kencing. Kemudian Ibrahim mengangkat pedangnya, dalam hati Ismail bilang “kok belum” lalu Ismail bertanya. Sudah Syaikh, panggil Ismail kepada ayahnya. Ibrahim menjawab ‘taqabalallohu minka’, Alloh telah menerima kesabarabnmu wahai anakku Ismail. Allohu akbar wa lillahil hamdu la ilaha illalloh, tiba tiba Ibrahim ber takbir, tahmid dan tahlil. Alloh telah menerima kesabaran kita dan Malikat tadi telah mengganti seekor domba disebelah batu itu, lalu kambing itu didekati dan disembelih Ibrahim dengan mengucap, bismillah haza minka wa ilaika ya alloh, allohu akbar.

Hajar isteri Ibrahim sambil memasak gandum yang ada di dapur, sepertinya ada tanda tanya, tidak seperti biasanya ketika keluar rumah membawa pedang golok, lagi pula telah diasah sampai tajam. Kemudian Hajar keluar dari pintu rumahnya, dan terlihat Ibrahim memanggul seekor kibas yang telah dipotong sedangkan Ismail memanggul kantong air. Sambil menggeremeng ia mengucap ‘ooo rupanya mereka memotong kambing’.

Jumat, 05 Desember 2008

Ibrahim Ragu Berkorban

Pagi itu seiringan terbitnya Matahari diarah tenggara, seorang bapak dan anak sedang mempersiapkan perjalanan menuju kaki bukit yang penuh batu cadas. Sambil mambawa peralatan seperlunya seperti tali, pahat, martil linggis serta berbekal makanan dan minuman. Beberapa onta telah siap untuk mengangkut peralatan itu juga mereka berdua. Ibrahim si anak kecil berserta orang tuanya, seorang perupa atau pemahat, akan memulai aktifitas mereka yang biasa dilakukan tiga kali dalam sebulam, pada hilal setinggi ubun-ubun setelah tenggelamnya matahari, pada bulan purnama dan sembilan hari setelah purnama sidi dalam kalender rembulan.

Diseberang jalan telah menunggu beberapa pembantunya yang akan bergabung dengan mereka berdua untuk mengambil bebatuan. Sebelum menaiki ontanya ia bersimpuh lutut meletakkan ujung hidung dan jidatnya ketanah kea rah halaman. Ibrahim mengamati ayahnya diatas punggung onta sambil memegang taki kendali. Hal itu sudah menjadi kebiasaan ayah Ibrahim setiap akan pergi mencari nafkah, begitu juga ketika pulang kembali kerumah, sebelum masuk rumah ia sujud menhadap rumahnya.

Bulan itu bertepatan akan mulai musim dingin, dengan ditandai matahari terbit dari arah tenggara, waktu malam lebih panjang dibanding siang dalam cuaca yang cukup dingin berangkatlah mereka menuju arah timur menuju perbukitan tandus.

Jalan yang dilalui merupakan jalur perjalanan saudagar maupun pelancong dari Cina, India, Darius, sehingga perjalan tidak terasa jauh, hampir tiap sebatang rokok dihisapnya ketemu rombongan kafilah dari timur, bapak Ibrahim melambaikan tangan sambil mengucapkan salam dan beberapa kata yang tidak dipahami Ibrahim.

Ayah Ibrahim sebelum menetap di delta Sungai Efrat, waktu mudanya ia sebagai pelancong dan suka mencari dan menimba ilmu dari daerah timur, termasuk seni memahat perupa dan pandai besi serta melukis atau menggambar.

Setelah berkeluarga ayah Ibrahim lebih senang menetap menjadi pandai besi dan memahat batu sesuai pesanan, rupanya hasil upah memahat batu merupakan pengasilan yang lumayan. Melihat pelanggannya cukup lumayan, ayah Ibrahim berinisiatip mencari batu sediri, tidak hanya sebagai empu atau pemahat upahan, tapi ingin menciptakan patung pahatan yang berbeda.

Tiga atau empat batang rokok telah dihisapnya, sampailah Ibrahim dan ayahnya sampai dikaki bukit, ditariklah tali kendali menjadikan kepala onta menghadap keatas serta ditepuk kaki depannya, berhentilah kemudian onta itu melipat kaki depan lalu belakangnya terus berjongkok terjongkok. Turunlah mereka dari kendaraan dan menambat tali onta pada pasak yang ditanjapkan ke tanah. Diambillah beberapa ranting kering lalu dibakarnya, mereka menghangatkan air serta membakar bekal.

Sambil istirahat, mereka menikmati teh hangat dan cemilannya, datanglah rombongan dari timur yang juga beristirahat di tempat itu. Salam bersambut salam, ayah Ibrahim mengucapkan suatu yang tidak dipahami Ibrahim, mereka senyum, saudagar dari timur itu mendudukkan salah seekor onta, dari koper yang terbuat dari anyaman akar dan rotan ia mengluarkan patung dari gerabah dan perunggu. Ayah Ibrahim menukarnya dengan lempengan perak.

Sementara pembantu ayah Ibrahim mengambil batu, ia masih tetap ngobrol dan semakin asyik, sesekali diselingi senyuman sambil geleng geleng kepala dan meletakkan telapak tangan kanannya pada dada kirinya menunjukkan keseriusannya.

Batu sudah terkumpul, namun ayah ibrahim hanya mengambil sebagian saja yang menurut perhitungannya tidak terlalu sulit untuk dipahat. Kenapa tuan tidak bawa semuanya ? tanya seorang pembantunya. Tadi aku dapat tawaran dari pedagang India, dan Darius yang akan mengirim batu setengah jadi ketempat kita.

Mereka bergegas melanjutkan perjalanan untuk pulang, sesampai di gerbang halaman rumah ayah Ibrahim turun kemudian sujud sebagai kebiasaannya, Ibrahim mengikuti disebelah kanannya, sambil meletakkan pelipis kanannya dan mengangkat yang yang kiri keatas, ia melirik dan melihat bibir ayahnya berkumat kamit.

Ayah Ibrahim pembuat patung sesembahan, tapi dirumah mereka tidak memiliki patung sembahan, yang ada hanyalah relief relief matahari, bulan, hewan, daun dan bunga. Untuk kelompok warga memang masing-masing memiliki patung sembahan yang dipuja tiap pagi dan sore, sesekali juga orang tua Ibrahim meletakkan sesaji pada patung yang ada pada kelompoknya.

Selasa, 02 Desember 2008

NGAWURULOGI

Pada hari ini, Selasa Tanggal 02 Desember 2008 Jam 20.45 WIB

Telah kutemukan sebuah teori “NGAWURULOGI ilmu yang mebahas bahwa ketidatahuan itu merupakan pengetahuan, bukan untuk mecari kebenaran atau menyalahkan, juga bukan ilmu matematika, ia adalah expresi kegembiraan, kepuasan dalam kebodohan atau pura-pura bodoh.

Ngawur merupakan kata sifat dari kata ‘awur’ yang berarti menebar kepenjuru arah; seperti memberi makan kepada ikan di kolam; menebar bibit padi atau pupuk pada petakan di sawah; atau seperti memberi makan burung merpati dengan melemparkan segenggam jagung ke taman. ‘mawur’ kata keadaan yang berarti berantakan kemana-nana, tidak pada satu titik tujuan tapi bercampur aduk. Juga berarti satuan-satuan yang hancur bercampur aduk menjadi bagian-bagian tersendiri; rontoknya patung pasir ketika kering dan dihembus angin; hancurnya kue kering dalam kaleng ketika kalengnya jatuh berulang kali.

Ngawur adalah jalan keluar menjawab persoalan atau pertanyaan yang tidak tahu jawabannya secara pasti_benar atau mendekati kebenaran. Ngawur kadang kadang benar juga kadang kadang salah, begitu juga ngawur kadang kadang tepat juga kadang kadang melenceng keluar dari sasaran yang dituju

Hasil perbuatan atau ungkapan yang ngawur, oleh sebagian kelompok dijadikan bahasa porkem dan disepakati sebagai kebenaran yang hanya digunakan oleh kelompok tersebut, juga hasil pemikiran yang ngawur menjadi kebenaran setelah dilegitemasi oleh para penggunanya dan tidak terjadi kesalah_pahaman, mejadi kesepakatan bersama sebagai kebenaran.

Ilmu Ngawur ; Ilmu untuk membenarkan, menyalahkan diluar aturan logika, fisika
maupun matematika.

( warning from me : benar_salah, wilayah bahasan ilmu logika, keluar dari
fisika_matematika bahasan ilmu metafisika, mistik atau ilmu peramalan )

Ilmu Ngawur, dapat kita temukan dalam karya fiksi_semi fiksi, film, teater, sandiwara, humor maupun pertemuan non formal.


( benar_salah, wilayah bahasan ilmu logika, keluar dari matematik bahasan ilmu

mistik atau ilmu peramalan )

Hak Cipta pada : Masud CHATIM

Alamat : Mandala Citra Indah Blok G12 No14 Serang 42111

Hak Cipta aku lindungi sendiri dan aku pakai sendiri

Boleh di Copy tanda seizin dariku

Inspirator “NGAWURULOGI”

  1. Nengsih dan Lieswati

Nengsih: aku punya kakek pandai besi, tiap hari bikin uang logam ribuan, tiap

minggu aku diberi sekantong.

Lies : aku punya Om kerjanya di Bandara, tiap hari pilotnya buang duitr ibuan

berkarung karung dan Om_ku melesnya tiap bulan aku diberi segini, sambil

menunjukkan jarak dua sentian antara jempol tak telunjuk.

(sama sama tidak tahu, bohong sesuai dengan hayalannya, meyakinkan lagi)

  1. Dahlan dan Totok

Tiwik dan aku sedang ngomong, uap karbit kok bisa nyala ketika

dibakar, dibuat dari apa ya ? Dahlan nyelonong menjawab dari air.

Totok mempertegas ia dari kelotokan debog garing biar tembakaunya

harum.

(sama sama ketawa dalam kengawuran, sama sama tidak menyambung)

  1. Wasis dan kawan-kawan

Wasis : ketika baru pulang dari Surabaya ia cerita pada kami, tiap hari aku naik Bemo ketika di Surabaya…… kami : Bemo roda ada berapa ? Wasis : ada empat……........... diantara kami ada yang ngomong : sama, di Semarang Becak rodanya ada dua.

Disisni bukan benar atau salah tapi saling menghargai dalam kebohongan dan ada kepuasan tersendiri.

4. Ketika aku cari alamat

Aku : Bang, tolong Bang, Gang Kapuk II tahu ka gak ?

Abang itu : sono no lurus, dekat

Aku : (dalam hati) deket apa an ? kaki sampai lecet baru ketemu hampir se jam

jalan kaki.

Gang Kapuk II No 17 ketemu, begitu masuk pagar pekarangan langsung

teriak ngumpat kasihan deh guee kagak naik Ojek. anggota rumah yang

kutuju pada senyum ketawa ( dalam hati mungkin berkata : kenapa ? ada kepuasan dalam ketidatahuanku )

4. Kid dan aku

Nenek : kamu tadi malam kemana ? Tanya nenek kepadaku

Kid : Ko ! diktesien ! kata sepupuku dari sebelah (Ko nama panggilanku

Kid nama panggilannya, yang hanya diketahui oleh teman sebayaku

saja) padahal kami berdua habis nonton Bioskup

Aku : anu mBah tadi malam kami ada diktesien di rumah pak Durahman

Toyib (guru Ilmu Alam sekolah kami yang paling kreatif dan suka

humor, aku gak tahu apa maksud ‘diktesien’ yang diucapkan Kid)

Sambil ketawa keluar dari rumah nenek, kami berbisik pasti tadi malam nyokab cari kita dirumah nenek.

Aku : apa maksud diktesien tadi ?

Kid : dari pada memar kena sabetan galar ( bamboo yang dibelah selebar

dua sentian panjang semester, yang dipersiapkan mencambuk anak-

anaknya yang bandel )

Semenjak itu kami menggunakan kata ‘diktesien’ untuk nonton bioskup, wayang atau ludruk, maupun begadangan yang hanya kami gunakan berdua. Akhirnya ‘diktesien’ jadi kata porkem bagi kami dan teman sebaya. Bagi nenek dan ortu masih menjadi bahasa porkas, juga bukan asosiasi maupun ortograf dalam bahasa.