Sehabis melaksankan sholat maghrib wirid do’a dan sholat ba’diyah, Maulana Ishak, memberikan lembaran-lembaran daun ental atau enau sejengkal panjangnya, lebar seibu jari, memberikan kepada setiap makmum yang hadir, masing masing diberi seikat sejumlah 180 lembar dan sebatang jarum kasur yang terbuat dari kawat. Maulana menjelaskan agar para jamaah menuliskan lafaz basmalah atau bimillahir-romanir-rohim, tiap lembar dua lafaz cara menulisnya ‘mim’ pada bismi, ‘ha’ pada Alloh, serta ‘mim’ pada rohman dan rohim, ditulis dengan kaidah khot nasah jangan rik’ah, mim dan ha’nya berlobang dan bersambung, seperti a dan o pada aksara greek. Kemudian mereka sama-sama membaca surah Yasin, shalat isya lalu menulis basmalah tersebut.
Kebiasaaan ini sampai sekarang masih dilanjutkan oleh sebagian kaum muslimin ketika memasuki tahun baru hijriah, dengan permohonan do’a maghfiroh kepada Alloh atas dosa kesalahan setahun yang lalu agar dimaafkan dan diampuni serta memohon hidayah dan maghfiroh untuk setahun kedepan.
Maulana Ishak, seorang mubaligh dan saudagar dari
Saudagar dari Malaka yang mengirimkan barang serta ikut berdagang di bazaar itu menamai sebagai bazaar_pekan sedangkan mereka yang berasal dari Portugis menyebut pasar_pon, wage kliwon legi dan pahing sebagai kelompok transaksi jual beli dinamai el pasaro de los communidad, jadi tiap bazaar atau pasar ada los pakaian, los raja kaya khusus ternak, los unggas, los pangan beras jagung gaplek biji-bijian, los janganan sayur mayur. Tiap los terdiri beberapa lapak yang menjual dangangan yang mirip atau sama. Dengan demikian tiap hari mereka membuka bazaar, namun tempat berbeda, sesuai dengan nama hari jawa pada hari itu.
Hampir tengah malam para jemaah sholat yang telah menyelesaikan tulisan basmalah dan menyerahkannya kepadanya. Setelah semuanya terkumpul, tiap orang menyerahkan ikatan lontar, atau ron_ental kepadanya, lalu dihitung sesuai dengan jumlah yang hadir dalam masjid itu. Dari jumlah lontar yang ada terdapat selisih dengan yang hadir, kemudian ia menanyakan siapa yang belum menyerahkan tulisannya.
Berdirilah Margono, seorang pemuda yang baru sekali ikut sholat bersama, kemudian maju menghadap maula Ishak mencium telapak dan punggung tangannya, sambil menunduk Margono menyatakan “bahwa ia mau ikut agama maula dan ngaji disini”. Maula Ishak menepuk punggung Margono, “baiklah sanak” jawab maula Ishak.
Maula Ishak membaca basmalah, mengucap salam hamdalah dan sholawat kemudian mengucap isti’azah, mengawali tausiyahnya, ayat yang dibacakan “Mereka bertanya kepamu tentang bulan sabit. Katakanlah: ‘Bulan sabit itu adalah tanda- tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang-orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Alloh agar kamu beruntung. QSA: 2; 189
Semua yang hadir mendengar dengan penuh perhatian, berlanjut maula Ishak berceramah tentang tahun penanggalan hijriyah, baru beberapa kalimat, tiba-tiba ada angin sepoi-poi masuk kedalam masjid membawa aroma nasi-samin serta sedapnya asap lemak-daging kambing yang sedang di sate, kemudian datang dihantar minuman beberapa kendil dan gelas dari bambu berfungsi ganda untuk minum sebagai gelas atau asbak rokok bila dibalik. Air jahe hangat manis gula aren sedikit lada dan sereh, penahan ngantuk penolak angin, dituangkan kedalam gelas bambu itu.
Maula tetap meneruskan ceramahnya, sementara yang hadir ada yang merokok, menyandar didinding sambil pejam mata, ada juga yang tangannya gatel merobek sambungan atau ujung tikar pandan, digigitnya bagai makan daun sirih yang terasa gurih bekas keringat tangan dan daki kaki serta sedikit apek. Tanpa terasa, lalu maula mengakhiri pengajiannya, kemudian memanggil Margono untuk maju kedepan. Ditanyalah ia oleh maula, kisanak !, apa yang kisanak pahami dari tausiyah tadi ?
Baiklah maula; putaran rembulan dari sabit kesabit dinamai sebulan, dalam setahun ada 12 bulan; Suro, Safar, Mulud, Ba’da Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Selo dan Besar. Tanggal 10 bulan Suro sunah puasa atawa siyam, bulan Poso sebulan wajib siyam, tanggal 8,9 bulan Besar sunah siyam, juga dibulan Besar kewajiban Kaji bagi yang mampu pergi ke Makkah.
Artinya kisanak tidak ngantuk, baiklah, nanti mengucap basmalah, kemudian membaca dua kalimah syahadat, kisanak kuberi nama Hilal. Margono sedikit usul untuk mudah memanggilnya, bagaimana kalau Damar Alit, sebagai dian alit, karena nama Purnomo, Purnomo Sidi, Badar atau Badary sudah banyak.
Nama yang cukup bagus, kata maula, baiklah akan kunamai yang tambah bagus dengan nama Damar Wulan Ngarid. Kisanak
Jadi kisanak Damar Wulan, abdi dalem pamong projo, bisa ngarit bisa ngarud, orang yang pinter ngarud disebut ngarid.
Hidangan telah siap, daun jati dan pisang dibagikan, didepan duduk sila yang hadir, nasi samin nasi putih telah siap empat panci/ngaron gerabah, dua ngaron gulai kambing, sate diatas anyaman bambo berlapis daun pisang ditopang dua batangnya, seperti dalang mau menancapkan gunungan maupun wayang-wayang.
Setelah menerima bimbingan dan diucapkan berkali-kali, mengucaplah Margono : “bismilllahir rohmanir rohim @ asyhadu alla ilaha illa_lloh wa asyhadu anna muhammadar rasululloh @ roditu billahi rabba @ wa bil islami dina @ wa bi muhammadin nabiya wa rasula @
Maula Ishak berdiri lagi, kisanak semua !, mari kita sambut kedatangan saudara kita Damar Wulan Ngarid, dengan ucapan marhaban bihudurikum, assalamu alaikum waraohmatulllohi wa barokatuh. Mereka mengucap marhaban dan salam, Maula mempersilahkan untuk menyantap hidangan yang ada. Setelah mereka menikmati dan membungkus untuk dibawa pulang, maula Ishak mengingatkan kepada mereka yang biasa mebawa dan mendagangkannya, jangan lupa besok kita di Pasar Legi.
Damar Wulan Kawin
Keahlian Damar Wulan membawakan arud dang gending, menjadikan terkenal tidak hanya didalam kraton Blambangan tapi juga sekitarnya, hampir setiap orang yang mengadakan hajatan mengundang santri Maula Ishak. Damar Wulan sebagai ‘Arid yang kreatif ia perpadukan antara gending dan arud, ia kembangkan jadi sandiwara berdialogkan tembang.
Pemuda pemudi mengidolakan, banyak gadis menaksir menaruh hati padanya, setiap hati handak mengarit sambil menggending suara pelan mengiringi langkah kakinya, setiap lewat depan rumah, selalu ada penyapa, 2,3,4 gadis terpaut dihati, satu jadi pilihannya, Sekar Mawar putrinya pak Suro.
Setiap sore menjelang mangrib, Sekar Mawar, duduk dibale rumahnya beralaskan tikar pandan. Dag dig dug, dag dig plas denyutan jantung ketika terdengar arudan tembang Damar, pemuda tumpuan hatinya.
Terbukalah benak hatinya ingin mengikuti agama rasul, agama islam, agar dapat ikut solat berjamaah dan ngaji bersama pemuda pemudi lainnya, lebih lebih biar dekat dengan Damar. Hasrat hati, disampaikan kepada ayahnya, pak Suro, yang kebetulan berbeda agama dengan maula Ishak. Pak Suro tidak keberatan, dipanngillag Sekar Tanjung dan Sekar Kenanga untuk menemani Mawar ke rumah Maula Ishak. Kenanga menyarankan agar, ayah, minta bantuan Damar untuk menemani mereka bertiga. Ketika Damar disebut Kenanga, dag dig dug jantung Mawar semakin keras dan cepat, sambil sedikit gemetar Mawar menyahut “iya ayah, itu lebih bagus”
Hari berikutnya Mawar sudah memulai belajar ngaji, Sekar_Tanjung Sekar_Kenongo belum, mulai menghafal menulis tanya jawab, dibalik tabir kain mori, pemisah bagi peserta putri. Damar diberi wewenang maula untuk membimbing memandu menghafal arud dan surat-surat alQur’an yang biasa digunakan sholat.
Tergeraklah Damar untuk menyampaikan isi hatinya pada Mawar, Mawar tidak menolaknya dan menyampaikan hal itu pada kedua orang tuanya, rupanya orang tuanyapun tidak keberatan, Damar melamar Mawar, pak Suro dan keluarga menerima.
Keluarga Damar dan keluarga Mawar telah mensepakati hari ‘H’nya, keduanya mohon ijin restu dan bimbingan kepada maula Ishak.
Penjelasan telah disampaikan maula kepada kedua santrinya, tentang syarat dan rukun dalam penikahan dan diberikan beberapa do’a kaitannya dengan perkawinan. Ikatan pernikahan atau perkawinan itu sah apabila rukun/pilar pernikahan itu terpenuhi ; adanya calon suami, adanya calon istri, adanya wali, adanya dua orang saksi, ada ijab-kabul, satu rukun/pilarnya tidak ada, tidak syah pernikahan itu.
Kebetulan pak Suro bukan muslim, sedangkan syarat wali calon_istri harus muslim, adapun tanpa wali pernikahannya tidak syah, Sekar Mawar menanyakan tentang perwaliaanya nanti.
Maula menjelaskan bahwa pernikahan atau perkawinan wajib adanya wali laki-laki dari pihak ayah, jadi ayah dan atau kakek “ayah bapaknya ayah, bukan ayah bapaknya ibu”. Ini disebut wali nasab kerabat pertama, tidak ada kerabat I pindah ke
kerabat kedua; saudara laki-laki seayah seibu atau saudara laki-laki seayah lain ibu atau anak laki-laki maupun cucu lalki-laki dari anak lelakinya, tidak ada kerabat II pindah ke
kerabat ketiga; paman atau saudara laki-laki ayah, se-ayah se-ibu atau se-ayah saja atau anak laki-laki paman atau cucu pama laki-laki dari anak paman yang laki-laki, tidak ada kerabat III pindah ke
kerabat keempat; saudara laki-laki kakek dari garis ayah, atau anak cucunya garis laki-laki, kerabat I, II, III & IV disebut Wali Nasab,
tidak ada wali nasab baru pindah ke Wali Hakim, jadi pernikahan kisanak berdua nanti menggunakan wali Hakim.
Bagaimana caranya ?, Tanya Sekar Mawar kepada maula Ishak
Kemudian maula Ishak membimbingnya bertahap-tahap; supaya diikuti apa yang diucapkan :
Tahap I, “ maula Ishak, saya neng Sekar Mawar putrinya pak Suro, telah dilamar kang Damar Wulan, saya menerima lamaran tersebut sedangkan wali saya, pak Suro, masih non muslim, mohon kiranya maula Ishak memberi jalan keluarnya”.
Baiklah, jawab maula; dan pernikahan nyi Sekar Mawar menggunakan Wali Hakim.
Karena di Blambangan maupun di Majapahit ini tidak ada Wali Hakim, maka kalian berdua mengangkat maula sebagai Hakim dalam perwalian pernikahan ki sanak berdua.
Sekarang kalian berdua ikuti saya,
Tahap II “maula Ishak kami, Dammar Wulan dan Sekar Mawar, sepakat ingin membina rumah tangga dan memulainya dari jenjang pernikahan, sedangkan wali_nasab pernikahan kami non muslim, selanjutnya kami mengangkat maula Ishak sebagai Hakim dalam perwalian pernikahan kami, dan kami ikhlas serta ridlo untuk dinikahkan”
Sekarang maula tidak dipanggil maula Ishak, akan tetapi dipanggil sebagai Hakim, dan hanya diucapkan calon istri atau neng Sekar Mawar, ikuti lagi
Tahab III“pak Hakim, saya neng Sekar Mawar putri pak Suro dengan ikhlas dan ridlo menyerahkan diri pribadi saya kepada pak Hakim untuk dinikahkan kepada kang Damar Wulan dengan mahar sekeping uang emas kontan”
Sekarang maula dengan kisanak Damar, neng Sekar cukup mendengarkan, ini jangan diikuti ya kata maula, iya jawab Damar.
Sambil menjabat tangan Damar, diijabkanlah ia kepada Sekar, setelah membaca khutnah nikah dan pesan takwa “kisanak Damar Wulan”, iya saya, jawab Damar, “saya nikahkan saya kawinkan kisanak kepada neng Sekar Mawar putri pak Suro dengan mas-kawin sekeping uang emas kontan” langsung dijawab oleh Damar “saya terima nikah dan kawin kepada neng Sekar Mawar putrid pak Suro dengan mas-kawin sekeping uang emas kontan” kemudian maula mendo’a “baroka-llohu laka wa baroka ‘alaika wa ja’ala baina kuma fil khoir”
Latihan pen-tahkiman, penyerahan dan ijab kobul cukup lama, dan diucapkan berulang-ulang agar nanti pada hari ‘H’ tidak canggung.
Tepat pada hari ‘H’nya, Sekar Mamar dengan paras penuh untaian bunga melati, wajah sedikit pucat kekuningan habis midodaren dilulur bedak dempo, diapit kedua orang tuanya, diiringingi tabuhan gong, kempul, terompet dan suling serta nyanyian gending kebo griwo menuju masjid. Sementara orang tua Damar Wulan tidak dapat hadir, karena ada tugas mendampingi Kebo Gadung, Adipati Rajekwesi, lagi pula saat itu hubungan Blambangan dan Mojopahit kurang harmonis.
Prosesi perkawinan berjalan lancar, suara qasidah dan sholawat dikumandangkan, nyanyian gending dilantumkan silih berganti.
Damar Wulan bermula tukang pencari rumput, menjadi peng’arud penghibur bagi orang yang pikirannya ruwet dan semerawut, tinggal sabitmu mengabadi di pucuk kubah dan menara masjid. (mic)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar