Jumat, 05 Desember 2008

Ibrahim Ragu Berkorban

Pagi itu seiringan terbitnya Matahari diarah tenggara, seorang bapak dan anak sedang mempersiapkan perjalanan menuju kaki bukit yang penuh batu cadas. Sambil mambawa peralatan seperlunya seperti tali, pahat, martil linggis serta berbekal makanan dan minuman. Beberapa onta telah siap untuk mengangkut peralatan itu juga mereka berdua. Ibrahim si anak kecil berserta orang tuanya, seorang perupa atau pemahat, akan memulai aktifitas mereka yang biasa dilakukan tiga kali dalam sebulam, pada hilal setinggi ubun-ubun setelah tenggelamnya matahari, pada bulan purnama dan sembilan hari setelah purnama sidi dalam kalender rembulan.

Diseberang jalan telah menunggu beberapa pembantunya yang akan bergabung dengan mereka berdua untuk mengambil bebatuan. Sebelum menaiki ontanya ia bersimpuh lutut meletakkan ujung hidung dan jidatnya ketanah kea rah halaman. Ibrahim mengamati ayahnya diatas punggung onta sambil memegang taki kendali. Hal itu sudah menjadi kebiasaan ayah Ibrahim setiap akan pergi mencari nafkah, begitu juga ketika pulang kembali kerumah, sebelum masuk rumah ia sujud menhadap rumahnya.

Bulan itu bertepatan akan mulai musim dingin, dengan ditandai matahari terbit dari arah tenggara, waktu malam lebih panjang dibanding siang dalam cuaca yang cukup dingin berangkatlah mereka menuju arah timur menuju perbukitan tandus.

Jalan yang dilalui merupakan jalur perjalanan saudagar maupun pelancong dari Cina, India, Darius, sehingga perjalan tidak terasa jauh, hampir tiap sebatang rokok dihisapnya ketemu rombongan kafilah dari timur, bapak Ibrahim melambaikan tangan sambil mengucapkan salam dan beberapa kata yang tidak dipahami Ibrahim.

Ayah Ibrahim sebelum menetap di delta Sungai Efrat, waktu mudanya ia sebagai pelancong dan suka mencari dan menimba ilmu dari daerah timur, termasuk seni memahat perupa dan pandai besi serta melukis atau menggambar.

Setelah berkeluarga ayah Ibrahim lebih senang menetap menjadi pandai besi dan memahat batu sesuai pesanan, rupanya hasil upah memahat batu merupakan pengasilan yang lumayan. Melihat pelanggannya cukup lumayan, ayah Ibrahim berinisiatip mencari batu sediri, tidak hanya sebagai empu atau pemahat upahan, tapi ingin menciptakan patung pahatan yang berbeda.

Tiga atau empat batang rokok telah dihisapnya, sampailah Ibrahim dan ayahnya sampai dikaki bukit, ditariklah tali kendali menjadikan kepala onta menghadap keatas serta ditepuk kaki depannya, berhentilah kemudian onta itu melipat kaki depan lalu belakangnya terus berjongkok terjongkok. Turunlah mereka dari kendaraan dan menambat tali onta pada pasak yang ditanjapkan ke tanah. Diambillah beberapa ranting kering lalu dibakarnya, mereka menghangatkan air serta membakar bekal.

Sambil istirahat, mereka menikmati teh hangat dan cemilannya, datanglah rombongan dari timur yang juga beristirahat di tempat itu. Salam bersambut salam, ayah Ibrahim mengucapkan suatu yang tidak dipahami Ibrahim, mereka senyum, saudagar dari timur itu mendudukkan salah seekor onta, dari koper yang terbuat dari anyaman akar dan rotan ia mengluarkan patung dari gerabah dan perunggu. Ayah Ibrahim menukarnya dengan lempengan perak.

Sementara pembantu ayah Ibrahim mengambil batu, ia masih tetap ngobrol dan semakin asyik, sesekali diselingi senyuman sambil geleng geleng kepala dan meletakkan telapak tangan kanannya pada dada kirinya menunjukkan keseriusannya.

Batu sudah terkumpul, namun ayah ibrahim hanya mengambil sebagian saja yang menurut perhitungannya tidak terlalu sulit untuk dipahat. Kenapa tuan tidak bawa semuanya ? tanya seorang pembantunya. Tadi aku dapat tawaran dari pedagang India, dan Darius yang akan mengirim batu setengah jadi ketempat kita.

Mereka bergegas melanjutkan perjalanan untuk pulang, sesampai di gerbang halaman rumah ayah Ibrahim turun kemudian sujud sebagai kebiasaannya, Ibrahim mengikuti disebelah kanannya, sambil meletakkan pelipis kanannya dan mengangkat yang yang kiri keatas, ia melirik dan melihat bibir ayahnya berkumat kamit.

Ayah Ibrahim pembuat patung sesembahan, tapi dirumah mereka tidak memiliki patung sembahan, yang ada hanyalah relief relief matahari, bulan, hewan, daun dan bunga. Untuk kelompok warga memang masing-masing memiliki patung sembahan yang dipuja tiap pagi dan sore, sesekali juga orang tua Ibrahim meletakkan sesaji pada patung yang ada pada kelompoknya.

Tidak ada komentar: