Sabtu, 13 Desember 2008

Kurokandas akan Nikah

Assalamu’alaikum, kata ku, ketika berdiri didepan rumah Pembantu Penghulu HA.Karim, orang memanggilnya modin Kayim. Kuulangi lagi; assalamu’alaikum pak modin, belum ada jawaban kuulangi lagi ; assalamu’alaikum pak Modin, “alaikum salam” suara wanita dari dalam rumah yang membalasnya, rupanya istri pak Modin.

Pak Modin ada bu ? kataku kepada bu Modin.

Ada !, katanya sambil menjempolkan tangan kanannya kearah kursi sebelah pintu, sebentar ya,,, sambil membalikkan badannya terus berjalan menuju ruangan dalam rumah, tak seberapa lama bu Modin menenteng gelas dan lepeknya, terus menuangkan airteh yang sudah ada di atas meja sejak tadi, diminum ! sambil menjempolkan tangan kanannya,,,

Terima kasih, iya bu,,, kataku “memamng bu Modin tiap hari telah siap airteh pahit panas satu ceret dua setengah literan, beralaskan merang jerami padi yang dikepang bagai konde berdiameter 20 cm, dibungkus sarung berdalaman kapuk randu setebal 2 setengah cm penahan suhu panas penangkis angin agar suhu air tidak cepat dingin”

Mau kawin ya ?! katanya, sambil tersenyum, dan nampaklah satu gigi bu Modin ada yang ompong dibagian taring kirinya. Kapan ya ?! sambil meletakkan telunjuk kirinya dibawah hidung menekan bibir atasnya agar bibir atasnya tidak terbuka lebar.

Iya bu, hari Ahad tanggal 15 Suro dua pekan lagi, kataku, sekali jawab untuk dua pertanyaan.

Ehem ehem, ehem ehem, ehem ehem, suara batuk tertahan diparu-paru pak Modin terdengar dari dalam menuju kami, berjalan sambil menggulung sarungnya bekaoskan oblong warna putih pakai peci haji bersulamkan bunga sedelapan, kelihatan jambul rambut depannya yang sedikit sudah beruban bagai burung jalak bali, mengenakan baju koko yang kancingnya belum dikailkan, nampak agak panjang sebelah, rupanya kantong kanannya terbebani sebungkus tembakau 87 kertas shak dan korek bensin, sebelah tangannya menenteng buku catatan, kemudian duduk berhadapan denganku, dikeluarkan tembakau dan koreknya, diamlnya secumput tembakaulalu dilintingnya mengerucut sambil dijilat pinggi papernya dan diputar lalau disulutnya, ehem ehem ehem batuk serak basah, tertutuplah wajah dengan asap rokok, eh eh eh eh menahan batuknya.

Gimana kabar abah ?!, tanyanya , alhamdulillah baik dan sehat, jawabku

Sudah mimpi ?!, tanyanya kepadaku, mimpi apa pak ?! balik aku bertanya bukan jawaban yang kuberikan. Sudah bisa mandi besar ?!! pertanyaan lagi kepadaku “memang ada mandi kecil_besar gitu?!” balik kutanyakan. Masih suka ke Musolla ?! “memang disebelah rumah ada Musolla yang biasa digunakan shalat berjamaah pada waktu maghrib isya dan subuh, zuhur dan ashar kadang_kadang”. Iya pak! maghrib dan isya, subuhnya banyak jarangnya, kesiangan terus ni pak alias karipan. Umurnya berapa ?! 23 th, jawabku cepat.

Nama lengkap dan alias, sambil membuka buku catatannya, matanya memperhatikan bibirku. Kurokandas alias Ahmad Karim, jawabku; hampir sama dengan pak Modin katanya. Nama bapak Abdul Karim sedang kamu Ahmad Karim. Lho bukan pak Kayim to pak tanyaku, iya sama saja, Kayim nama panggilan bapak waktu kecil, memang abah kamu menamai anak-anaknya hebat banget, kakakmu si Nogoteja, satunya Diponotopraja. Lha adik kamu siapa namanya ?! Belokaripan pak, jawabku. Iya bapak tahu lahirnya waktu itu kalo gak salah bapak mau pergi mendaftarkan ke KUA, ya sekitar jam 7-8 pagi.

Tanggal lahir ?!, 18 Oktober 1985 jawabku,

eeeeeeeeeeee 85 Astaghfirulloh al adziim, ucapan latah bu Modin, lalu berdiri sambil lari kecil ke dalam sambil mengucap alhamdulillah belum gosong, katanya dari dapur. Tak seberapa lama bau aroma wanginya intip nasi agak gosong, rupanya bu Modin sedang meninggalkan nasi aron diatas kompor, juga terdengar bersin beberapa kali dari dapur.

Berlanjut pak Modin bertanya sekolah terakhirku, kujawab, SMK jurusan teknik mesin

Pak Modin : pantas ujung tangan dalam kukumu tampak hitam, itu menandakan mencucinya kurang bersih, kerjamu di bengkel ya ?

Aku : iya pak dibengkel kang Marjan.

Pa Modin : begini Ro, kalau kamu akan sholat, pertama kamu harus toharoh dari hadas besar kecil dan wudu.

Aku : iya pak, itu sudah kuperoleh ketika belajar di SMP maupun di SMK

Pak Modin : iya, tapi dalam pengamalannya masih kurang, buktinya itu tangan kamu masih ada benda yang menghalangi air wudu, juga dalam mandi, berarti wudunya kurang sempurna.

Aku : tapi sudah berusaha maksimal tapi tak mau hilang

Pak Modin : benda apapun yang menempel pada anggota wudu , muka tangan kaki, apakah berupa cat lem minyak getah_nangka lem_isolasi sisik ikan bandeng maupun oli, apabila menghalangi air wudu maka wudunya tidak sempurna, kalo wudunya tidak sempurna, gimana sholatnya?, hayo ?

Aku : terus gimana pak ? sudah pakai sabun berulang kali masih ada yang nyisa.

Pak Modin : bapak pernah ngaji dulu, kata kiyai, debu tanah pasir selain sebagai salah satu sarat menghilangkan najis liur anjing yang menempel pada badan maupun benda lainnya seperti piring lepek jelana maupun alas meja, juga dapat menghilangkan barang yang berminyak yang menempel pada badan maupun kain. Begini caranya, basahi tangan kamu kemudian bolak balikkan pada debu tanah, atau ambil segenggam debu tanah pasir itu lalu masukkan pada gayung dan beri sedikit air seperti bikin adonan kue, lalu ujung tanganmu yang nampak hitam itu bersihkan dengan kuku kukumu atau lidi korek api, nah sekarang coba, biar lebih paham.

Sementara aku mengambil debu, pak Modin mengambil ember kecil dan sedikit air dalam gayung. Aku mulai memainkan jemariku seperti mencari kutu rambut atau ketombe, juga seperti ngupil korong hidung maupun telinga, dan memang benar bercak bercak hitam yang menempel di selasela kukuku hilang

Pak Modin : itu juga dapat kamu gunakan membersihkan pakaian kamu bila kena oli atau gemuk oli, caranya, adonan debu tadi sebagai sabunnya, bilas, baru pakai sabun beneran.

Aku : wah, lumayan dapat tambahan ilmu.

Pak Modin : jadi,,,,,, mau nikah itu tidak hanya mengurus persyaratan administrasi, juga persiapan dalam perjalanan pernikahan atau berkeluarga nanti, utamanya bebersih wudu mandi wajib serta mengauli istri.

Aku : ya Pak, tolong dibimbing

Pak Modin : coba ucapkan dua kalimah syahadat

Aku : assadu alla ila_ha illa_lloh, wa assadu anna muhammadar rasulu_lloh.

Pak Modin : nah, ini yang sering bapak dengar, kalo ngucapkannya terlalu cepat, huruf ‘ha’nya ketinggalan, arena kita sering meninggalkan huruf ‘ha’ dalam percakapan kita. Seperti Harimau, jadi Arimau, motor Honda terucap Onda, Hukuman => Ukuman, Hotel => Otel, Hujan => Ujan, ini hanya contoh.

Aku : iya juga ,

Pak Modin : coba diulang lagi,

Aku : assadu alla ila_ha illa_lloh, wa assadu anna muhammadar rarulu_lloh.

Pak Modin : coba dengar dan lihat bibir bapak “ asy..ha.. du, asy…haa..haa…haa

Aku : (dalam hati; ‘ha’nya pak Modin badeg amat, kaya bangkai cicak) iya pak, (sambil gigit gigi menahan ketawa, rupanya pak Modin menyadari lalu ia duduk agak mundur, kemudian aku ulangai seperti pak Modin) “ asy_ha_du, asy_ha_ha_ha_ha_ha_du alla ilaha illa_lloh wa asy_ha_du anna muhammadar rasulu_lloh, (aku ulangi) “asy_ha_du alla ilaha illa_lloh wa asy_ha_du anna muhammmadar rasulu_lloh (pak Modin memalingkan sedikit mukanya, rupanya ‘HA’ku juga badeg, dan memang aku tadi sarapan ketupat sama semur tahu dan jengkol, tidak sikat gigi lagi)

Pak Modin : lha begitu baru pas benar, diminum airnya.

Sementara aku dan Pak Modin minum, dan melanjutkan saling merokok, sambil merokok pak Modin memainkan bola matanya kekanan-kiri serta mengangkat dagunya sedikit keatas, entah apa yang sedang dilihat dan dipikirkan.

Aku : ehem, ngomong-ngomong sementara cukup dulu pak nanti minta dibimbing lagi,

Pak Modin : iya, tapi lengkapi dulu copy KTP dan Ijazah terakirmu, lalu kita ke Kelurahan.

Aku : ya Pak, terima kasih permisi dulu, assalamu’alaikum, sambil kujabat tangannya.

Pak Modin : salaam, kalo dapat sebelum zuhur ya…!

……………….bersambung…………..


Tidak ada komentar: