Jumat, 20 Maret 2009

Penghulu Sofyan Amin, Bc.Q

Semenjak kehadiran Penghulu Sofyan Amin, Bc.Q suasana kantor KUA gak pernah sepi, suasana jenuh bosan dan ngantuk terasa hilang, ada saja tingkahnya yang mengundang gemes ketawa menjenggelkan … dengan keahliannya bisa saja ia mengalihkan kejenggelan orang yang ia kerjain dengan cerita memelas serius seakan-akan gak pernah terjadi apa-apa.

Merupakan acara kegiatan rutin sehabis sholat dan makan siang, dalam menikmati istirohat siang, baju bertenggerkan di sandaran kursi, berkaos oblong atau TShirt celana dikendorkan, duduk santai, ada yang melonjor tidur-tiduran bersarungkan Atlas hadiah lebaran. Kipas angin yang ada tak mampu menghalau keringat yang mengucur dari jidat dan leher, cuaca saat itu memang cukup lumayan panas, karton pelapis air kemasan ukuran gelas ikut juga sebagai penghalau keringat pengantar angin buatan.

Balai Nikah yang biasa untuk acara pernikahan difungsikan juga sebagai musholla dan tempat santai. Walau ruangan cukup gerah sedikit panas pengaruh panas terik matahari yang memang cukup panas, lagi pula angin tidak menghembus. Merokok sebagai kembang mulut berjalan terus, penawar sisa-sisa pedasnya rasa cabai hijau dan rawit khas masakan padang, mulailah penghulu Sofyan Amin, Bc.Q bercerita.

Sebuah nama yang sudah melekat dan gampang diingat oleh setiap pembantu penghulu desa se kecamatan. Setiap bersalaman –baik sudah kenal ataupun belum- senantiasa ia ucapkan : ‘saya Sofyan Amin, Bc.Q abituren PPUAN’ menanti orang Betawi tinggal di belakang Sekolah kejuruan Putri Pertiwi, Slipi Jakbar. Ada saja bahan obrolan dan gunjingan, mulailah ia menggunjing-humorkan apa yang ia lihat …

1] Pak Machfud, tahu gak kamu krupuk ini, sambil dikremus dikunyah, rontokan serbuknya pada nempel di bibirnya, ada juga yang menyangkut di jenggot yang hanya sejumput, ada juga yang tersangkut di kumisnya yang hanya sembilan helai.

2] Itu kan kulit kerbau yang diolah dibikin krupuk.

1] Cara membikin atau prosesnya tahu gak !?

2] Setahuku, kulit dibersihkan bulu-bulunya lalu direndam daklam air yang bercampur kapur kemudian direbus sampai lunak, ada yang dibikin sate kikil atau dibuat sambal bihun campur kulit melinjo, sedang yang dijemur jadi krupuk yang kita makan sekarang.

1] Kalau ditempatku kikil itu urat atau kulit sekitar dengkul kebawah –apakah kerbau sapi atau kambing- kalau digulai dengan sayur nangka disebut cecek, sedangkan kerupuk yang kita makan ini, bukan krupuk kikil tapi krupuk rambak.

2] Kalau disini, semuanya disebut kikil, baik sambal, sayur atau sate rebus.

1] Aku punya ceritera ; waktu itu ketika dalam perjalanan dari Bukit Tinggi ke Palembang, sampailah sore hari menjelang maghrib kami beristirohat di Rumah Makan dekat danau Maninjau Kabupaten Agam. Kopi hampir setengah gelas diminum, kami bertiga satu meja kebetulan satu Oto –istilah untuk Bus, … ngomonglan Nang Cik dari Palembang kepada Nasrulloh yang katanya akan melanjutkan perjalannya ke Pangkal Pinang lewat jalan laut.

3] Aku baru tahu –kata Nang Cik- kalau Bukit Tinggi pernah menjadi Ibukota RI setelah Jakarta dan Yokyakarta, aku baru tahu juga kalau ada angka 4 Romawi seperti PPS menghitung suara satu berbaris empat tertulis IIII bukan satu menuju lima seperti tertulis IV, dan itu salah satu keunikan Jam Gadang hadiah Ratu Juliana untuk rakyat Bukit Tinggi yang diletakkan dibukit dekat dengan Kebun Binatang dan Rumah Gadang, Rumah Adat Minang, aku baru tahu juga kalau ada nama Presiden Penyelamat RI, PDRI Mr Sjafruddin Prawiranegara walupun hanya menjabat tujuh bulan –antara Presiden Soekarno dan Soekarno. Waktu itu Presiden dan Wakil serta seluruh anggota kabinetnya ditangkap Belanda dan dinyatakan bahwa RI sudah tidak ada, kebetulan Menteri Kemakmuran Mr Syafruddin sedang mengadakan kunjungan ke Sumbar. Presiden memberi Mandat kepada Mr Syafruddin, untuk menyanggkal pernyataan Belanda, bahwa Indonesia masih ada dan Pemerintahan Darurat RI beribukota di Bukit Tinggi dan Mr Syafruddin sendir sebagai Ketua atau Presidennya. Kalau sejarah mengakui maka Presiden pertama RI, Ir Soekarno, ke 2 Mr Sjafruddin Prawiranegara (mandataris Presiden), ke 3 Ir Soekarno, ke 4 Soeharto, ke 5 Prof.Dr BJ Habibi, ke 5 KH Abdurrahman Wahid, ke 6 Megawati Sukarno Putri, ke 7 DR.H. Susilo Bambang Yudhoyono, jadi RI menurut aku sudah memiliki 7 orang Presiden.

Mandat yang kedua, pernah diberikan kepada Letjen Soeharto sebagai Pejabat Presiden untuk memulihkan keamanan, ekonomi pangan, politik atau demokrasi berpolitik, semuanya hampir pulih adapunn Pemilihan Umum akan dilaksanakan tahun 1971. Takdir Tuhan mentukan lain, Surat Mandat/Perintah belum diambil Presiden Sukarno sudah kedahulun wafat, Pemilu berjalan lancar tahun 1973 anggota MPR&DPR dilantik Jendral Suharto terpilih sebagai Presiden dan Sri Sultan Hamengku Buwana IX sebagai Wakil, semenjak tahun 1974 hingga sekarang secara terencana-perlahan terjadi perobahan sistem dan hukum ketatanegaraan NKRI … mari kita mendo’a kepada kedua Presiden kita yang telah wafat, kata Nasrulloh … , bismillahir-rohamanir-rohiim, alhamdulillahi robbil’alamiin, allohumma-sholli ‘ala sayyidina muhammad wa ‘ala ali sayyidina muhammad, allohumma-ghfir liruhi presiden sukarno wa suharto warhamhuma wa ‘afihima wa’fu ‘anhuma, allohumma la tahrimna ajrohuma wala taftina ba’dahuma waghfirlana walahuma. Aamiiin.

2] Terus apa hubungannya dengan krupuk kulit kerbau ini ?

1] Begini, masih panjang ceriteranya … di depan RM itu ada rel KA, beberapa meter dari bibir pantai danau Maninjau.

2] Ini sudah ceritera apa baru pengantar ? kan sudah jauh amat dari Bukit Tinggi hingga Danau Maninjau.

1] Kamu sabar sebentar … krupuk rambak atau kikil kalau di Padang disebut Krupuk Jange’ dan kikil yang biasa di gulai disebut Gulai Tunjang.

2] Kan cuma beda nama doang, gitu aja kamu ceriterakan.

1] Ah, kamu ini gak sabaran ……… mulailah Nang Cik bercanda dengan Nasrulloh, yang katanya dari Sumbok Aceh.

3] Tahu gak kamu, di Padang dan umumnya di Sumbar gak ada bedug

4] Di Aceh juga sama, baik di Masjid maupum di Meunasah sulit untuk ditemui bedug.

3] Tapi bukan itu maksud aku, maksud aku tahu gak kamu sejarah Tari Saman dari Aceh ?

4] Tahu sedikit yang pasti dari Turki, karena Aceh -sebelum ditaklukkan oleh Belanda- mempunyai hubungan diplomatik dengan Kesultanan Turki Usmani, sebelum Kamal at Tatruk menjadi Presiden Republik Turki pertama.

3] Tahu gak kamu, kena apa rombongan kesenian tari dari Aceh takut dan enggan mengadakan pertunjukan di Padang.

4] Gak tahu.. !

3] Lha ini baru ceritera …; ketika rombongan kesenian dari Aceh tiba disini, waktu subuh … Oto berhenti di Rumah Makan ini … semua penumpang pada turun, biasa istirohat sejam lebih sedikit … Oto dibersihkan … waktu itu sedang ada wabah penyakit kuku-mulut sapi … seluruh ternak yang akan masuk kesini dilarang masuk … sulitlah pengarajin krupuk jange’ untuk mendapatkan bahan baku .. tiba-tiba, Uyung si pembersih Bus naik ke atap Oto, dilihatlah … ada ikatan rebana, gendang saraful anam … dalam hati Uyung ‘makanan dipakai mainan’… turunlah ia mengambil pisau, diambillah kulit yang terdapat di alat musik tadi … sampai di Padang sudah tengah hari hampir zuhur … semua penumpang turun, juga barang yang ada di atas oto … sampai di tanah apa yang terjadi … semua alat musik tabuh tinggal kerangkanya saja, kulitnya hilang … terdengar sayup-sayup … hna ..lun .. jak … bajeubo … mungkin maksudnya dimakan apa gerangan ? … pelatih dan ketua rombongan berunding, malu kita, sudah sampai disini peralatan musik rusak semua, gak ada yang utuh tersisa … Nur Ahimi … si pelatih mengambil inisiatif, bagaimana kalau kita ganti dengan tepuk duka, seakan itulah rebana dan saraful anamnya … akan tetapi bukan dada atau pipi yang dipukul melainkan pundak, lutut dan lantai .. kan pertunjukan akan dipentaskan besok malam, jadi masih ada waktu sehari untuk latihan … itu ceritanya kenapa rombongan seni tari dari Aceh kapok gak mau manggung di Padang.

2] Begitu saja kok di ceritakan, pingin tepuk tangan kek, tepuk kaki kek, tepuk pundak kek itu, tepuk perut kek, ya terserah mereka.

1] Ini bukan kataku, kog uring-uringan, tapi obrolan Nang Cik dengan Nasrulloh, teman se-oto-ku … Ada yang lebih seru … pantai Danau Maninjaupun tidak terlalu dalam, landai mulai setelapak kaki pelan perlahan sampai kedalaman terdalam … lha yang ini lebih seru lagi … ikan-ikan Danau Maninjau sangat akrab dengan manusia, ikan Bilih, ikannya genit-genit suka mencabuti bulu kaki dan kulit mati tiap orang yang menjeburkan kaki atau tangannya, geli merinding seperti semutan, … ceriteranya sebagian anggota rombongan tadi, ya lelaki ya perempuan, yang memang tempat antara kedua jenis kelamin ini dipisah berjarak lebih seratus meter, mereka berkehendak ingin cuci kaki basuh muka atau kencing …..

@ Ehem, ehem, ehem, ehem … bersuarakan dehem-batuk buatan yang dikeraskan

1] ……. Sambil membisikkan suara amat pelan ke telingan Machfud ‘di sensor pak Naib’

Penasaranlah penghulu Machfud dengan ikan-ikan genit Danau Maninjau … yang besarnya setelunjuk kecil sedikit … ribuan mungkin jutaan ekor jumlahnya … penghulu Sofyan Amin Bc.Q ketawa tertahan entah apa yang ditertawakan

1] Berbunyilah klakson Oto, pertanda perjalanan ke Palembang akan berangkat … berhentilah Nang Cik bercerita … Nasrullloh bersiul menyanyikan lagu Bungo Jeumpa.

Sambil santai penghulu Sofyan membaca ayat :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Alloh ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Alloh maha Mengetahui lagi Maha Mengenal QSA : 49 ; 13

……………………………… obrolan dilanjutkan

1] Pak Machfud tahu gak kamu apa nama anak kerbau ?

2] Tahu, gudel

1] Heboh, kalau tahi kerbau ?

2] Klethong

1] hampir benar, kalau mulut kerbau ?

2] Cungkur

1] Gak apalah, mau cungur, mau cingur, mau congor kan mulutnya kerbau sendiri, terus tahu gak yang suka bertengger di punggung kerbau ?

2] Si pengembala

1] Ini baru goblok, yang cerdas pasti akan menjawab burung bangao atau pemangsa kutu maupun lalat.

2] Terserah aku mau bertengger kek, mau jongkok kek, mau sila kek, mau duduk kek, jawaban-jawabanku sendiri ya aku benarkan sendiri

1] Terus pak Machfud, tahu gak kamu, kerbau itu giginya ada berapa ?

Pertanyaan belum dijawab, penghulu Sofyan terpingkal-pingkal sambil menunjuk ruangan Naib, karena gigi depan-atas naib Masud sudah pada ompong.

1] Pak Machfud dulu pernah ikut BUTSI apa tidak ?

2] Gak pernah

1] Aku peserta BUTSI angkatan terakhir, jadi aku ditempatkan diluar Pulau Jawa, kebetulan aku di Kab Badung Prop Bali … teman seangkatanku Jufri Zaidin di Prop. Irian, sebagai tenaga sukarela berfungsi sebagai motivator, penyuluh pesan-pesan pembangunan. Sebagai seorang muslim ditengah mayoritas Hindu, masyarakat hindu paling banyak dan sering melakukan persembahyangan atau Yajna, yang lebih unik lagi ada Pure tempat ibadah yang namanya Pure Mekah, bukan Mekah yang ada masjidil Haram di Arab Saudi, lagi pula nama kota Mekah tidak hanya terdapat di Arab Saudi. Rupanya agama Hindu menurut pengamatanku, ada kaitan antara Tuhan, Alam Raya, Bumi dan Manusia, sehingga sepertinya Wajah_Tuhan ada disitu, bahkan pada diri manusiapun tercermin kreativitas Tuhan, erecytas organ kelamin perlambangan daya kreasi dan kerja keras begitu pula kesuburan dilambangkan payu dara wanita yang memproduksi air susu kehidupan.

Suatu hari di Pure Mekah ada pertobatan seorang yang telah merantau melang-langbuana ke dunia pemikiran dan agama serta telah pindah dari Agama Hindu, ia tidak dapat diterima keluarganya, akhirnya ia kembali ke keluarga, sebelum dapat dapat hadir dan diterima dalam keluarga ia harus diadakan ritual dan yajna di Pure Mekah.

Aku waktu itu habis memberikan penyuluhan KB serta memberikan contoh pengguaan kondom, biasa , alat peraga mudah diperoleh di pasar seni, alat peraga aku pasang tali dari sepasang ikat sepatu yang ku baut pada panggkal alat peraga.

Keingintahuanku akan pertobatan di Pure Mekah, mampirlah aku kesana dan beberapa turis domistik dan luar. Tanpa kusadari alat peraga yang kukalungkan menggelantung dibawah puser, rupanya kancing baju saya yang kedua dari bawah terbuka, model pakaian waktu itu baju ketat belah samping lengkung, celana ujungnya lebih lebar dibanding paha, istilah waktu itu disebut cutbray … nongolah alat peraga yang masih ada kondomnya … mendekatlah salah seorang yang mengenakan pakaian adat, apakah pengurus pure atau guide turis, sambil menunjuk kepuser-ku … maksudnya agar aku membenarkan mata kancing baju, tapi … justru orang-orang yang ada disampingku pada senyum melihat alat peraga yang masih ada kondomnya itu …… disinilah relatifnya pornografi atau symbol kreatifiti suatu keyakinan.

Beda dengan aku, teman aku Jupri Zaidin yang ditempatkan di Irian, mengirim surat kepada-ku kalau ia benar-benar telah menjadi anak & saudara sesusuan dari beberapa kepala suku di sana ………………………..

---mic---

Tidak ada komentar: