Berhentilah Naib Masud Chatim, tidak jauh dari simpang-empat Pintu Keluar Jalan Tol, tempat mangkalnya banyak penjaja makan buah-buahan minuman ringan koran dan majalah, walaupun tempat berhimpitan penjaja asongan pun belasan orang jumlahnya hilir mudik pergi datang naik turun Bus. Ojek dan Angkot juga ikut andil meramaikan kehadiran pedagang. Itu barangkalai walau tanpa disuruh maupun disediakan Los maupun Lapak para pedagang datang dengan sendirnya, tempat penitipan Sepeda Motorpun tersedia 24 Jam utamanya dekat tempat halte Bus, ribuan motor tiap hari dititipkan disana, pertanda mobilitas penduduk yang cukup tinggi utamanya menuju Jakarta dan sekitarnya ada yang memang bekerja, banyak pula yang membeli dagangan dipasar grosir, serta urusan lain yang memang Jakarta menyediakan apa-apa yang sulit didapat atau lebih mahal sedikit disini.
Mobil Patwal Jalan Raya berhenti di jalur bebas berhenti diikuti dua mobil dibelakangnya, pintu depan sedan Patwal terbuka pelan-pelan, keluarlah seorang tomboy, cantik berbadan tinggi semampai, berdiri dibalik pintu meletakkan tangan kananya di cup mobil, mata tajam menerawang kebelakang, wajah serius kuning kemerahan saking seringnya kesapa sinar mentari, banyak mata ikut mencuri memandang, gadis jantik perawakan atletis Polwan, menanti menunggu rombongan convoy yang belum kunjung datang. Dari mobil belakang Patwal keluarlah beberapa orang mengenakan kaos seperti seperti para cosmonoute berkaoskan putih bersih bersablonkan berkrahkan biru laut, dada sebelah kanan lambang Garuda menghadap kekanan berperisai Pancasila mencengkeran spanduk panji-panji Bhineka Tunggal Eka dibawah tertulis KOMNAS FBPI, dada sebelah kiri bertuliskan USAID biru merah diantara Lambang dan tulisan From The American People, lengan kanan berlambangkan unggas terbang menembus awan CBAIC –tidak pakai Airways atau Airline- lengan kiri tercetak Ontrack Media, punggung belakang poster melengket Empat langkah Menghindari Bahaya Flu Burung, bercelanakan training warna biru donker a la Supermen, pangkal paha bergaris dua miring ketaras diatas lubang saku kakan-kirinya dari kejauhan seperti pakai celana dalam diluar seperti Cosmonute Rusia atau India.
Uang 20 ribuan diberikan penjaja koran, ribuan serta beberapa recehan kembalian diterima Naib Masud, sambil menenteng koran lokal, sebotol minuman suplemen serta sebungkus rokok filter, dimasukkan kedalam tas kain-terpal hitam berfunsi ganda sebagai penangkis angin, koran lokal baginya cukup penting sekedar sebagai sumber informasi daerah sekitarnya, berita nasional, dunia olah raga hiburan pun ada walau sepintas baginya sudah cukup, -TV, internet dan radiolah- yang melengkapi. Sambil menstarter motor sepeda-uduknya yang accu-nya sudah haus tak mampu memutar dynamo, kaki kanannya mengengkol-engkol, matanya melirik ke mobil Potwal 3, 4 mobil berhenti berbaris dibelakangnya pertanda rombongan yang dinanti dan tunggu telah sampai.
Lima menit berjalan, terpikirlah dalam benak Naib, apa gerangan rombongan team tadi, adakah didaerah ini terindikasi adanya atau mungkin juga akan terjadi pemusnahan unggas yang diduga membawa atau terinfeksi flu, sambil melirik kaca spion kanan dibelakang, aman tidak ada kendaran dibelakangnya memutar balik menuju arah rumah, teringat akan burung Beo dan Kenari-nya dalam kandang dihalaman depan rumah yang baru saja dimandikan dan diberi pakan. Rombongan Patwal telah meninggalkan tempat entah menuju kemana, burung beo kenari dipindah kesangkar yang agak kecil yang biasa digunakan mengadu lomba kicau burung diletakkankan di dalam rumah. … cepat balik lagi ke kantor dengan sedikit terburu-buru, sebab jam 09 ada acara pernikahan sedangkan alrojinya telah menunjuk anggka 08.15. Dalam perjalanan sambil menghayal sesekali menyanyi dalam Studio Helmetnya yang dilengkapi karet busa peredam suara … penghilang rasa lelah kadang mengawang mengaji surah al-qori’ah hingga an-nas.
Takdir Tuhan berkehendak lain, jam 09.20 sampailah ketempat acara perkawinan, banyak tamu berdiri dan mondar mandir didepan rumah, dikira menunggu menanti naib, .. sambil datang menyalami tangan naib ’sabar naib ngopi krihin’ sabar dulu naib mari kita minum kopi, pengantin lelaki mungkin akan datang sejam lagi sebab jembatan sungai sebelah amblas dibawa banjir tadi pagi barusan. Sambil menikmati kopi dan kue yang tersuguh, burung dadali dan kepinis beterbangan tukik-menukik terbang rendah menyambar makannnya, --- sambil melamun mengingakt burung Beo-Nuri yang disimpan didapur dan mengisap rokok filternya dalam-dalam,
== itu pertanda akan hujan pak , kata pak Muhadi kerabat yang punya hajat kepada naib.
--- Haaah, terhenyak dari melamunnya, memangnya kalau terbang memencar tidak jadi hujan, tanya naib ke pak Muhadi
== bukan begitu, … lemut ngegat dan binatang terbang-kecil lainnya kalau cuaca diatas dingin, mereka terbang tak jauh dari rumput, tetapi kalau cuca diatas cerah dan hangat mereka akan terbang tinggi menuju pujuk kelapa atau lebih tinggi lagi, jadi sebentar lagi ini pasti akan hujan
--- aaaah pak Muhadi ini seperti pawang hujan saja
== gih naib, sampun kule tandani… ini betul naib salah satu pertanda petunjuk alam.
Tiba-tiba datang berita dari calon pengantin bahwa tanggul penangkis air terkikis dan jebol, rombongan balik pulang menyelamatkan barang dan ternak … termasuk pengantin dan keluarga … meminta supaya pelaksanaan ditunda hingga air surut
… lhaaa surutnya kapan, kata pak Sueb kepada penerima SMS itu, Muhit adik Nuratun.
… yaa kapan-kapan, kata Kurokandas latah menyahut serius
… ah kamu ini Ro’ orang serius kamu jengengesan saja
… siapa bilang aku cengengesan, coba lihat itu mendung hitam gelap disana kalau hujan sekarang, nanti 7 hingga 8 jam sampai ke sungai sebelah
… terus bagaimana ni !
… ya diterusin aaje kata Kurokandas dengan jawaban logat betawinya setengah menyuruh
… kamu makin kurang ajar Ro’ kata Suminto, yang bersebelahan duduk
Ditemuilah Wali pengantin -pak Daimun- yang mulai gelisah melihat mendung
… gimana mang Daim
… ya tererah besan
… ya terserah primen terserah bagaimana, coba kakang lihat si eNong dan dapur, kata nyi Daim –namanya nyi Sundari, ibu pengantin wanita Nuratun binti Daimun
… tenang aja Tun, kan ada kang Kuro … Nuratun diam, memerah wajahnya yang tertutup makeup
… Sabar dulu Nyi, biar kita hubungi lagi, sambil memamnggil Muhit, kata pak Daim kepada istrinya … kontak dengan Rejowitana bin Jakasurya calon suami Nuratun tidak ada respon, dijawab operator, lokasi anda diluar area layanan, tinggalkan pesan setelah bunyi …dihubungi RT Pengki, yang waktu itu ikut hadir dalam acara pelamaran … panggilan terkonek, akan tetapi lima kali baru diangkat … maaf sedang sibuk nanti sejam atau dua jam hubungi lagi … menandakan memang sedang menghadapi kesibukan datangnya banjir dadakan itu.
Kegelisahan keluarga pak Daim semakin dalam, Atun mulai menampakan kesediahanya sesekali ingus bening keluar dari hidungnya, tissue yang digenggan telah habis hampir separoh, cuaca semakin redup sinar matahari tak sampai disini mbah Gondangsari yang dipercaya sebagai juru masak menyiapkan nasi gulai dan sayur dibantu ibu-ibu dan beberapa pemuda, sambil menusukan beberapa cabe merah dan bawah merah dipucuk sapu lidi mulai menyuruh merobah posisi tungku api arang batok kelapa dan memasang terpal plastik. Tabung-tabung gas kecil serta kompor bernamakan sipemilik dipindah keemperan rumah tetangga sebelah yang aman dari hujan.
Kontak dengan RT Pengki dapat terambung, dijawab ‘ya sebentar lagi saya kesana, tapi saya tidak dapat hadir, akan mencari bebek-ayam-itiknya yang hanyut dibawa air’ … Hp kule kerendam air, barangkali ditunda dulu, gede sanget banjirnya, jawab Rejo.
Pak Daim, Naib, Penghulu Desa diruangan itu mulailah berembug … sabar ning, sabar ning, sabar ning, kata nyi Sundari ibunya
… wis kalem Tun, kan ade bang-Kuro, keinginan loh pasti kesampeyan, dengan nada menghibur dengan godaanya berlogat betawi, sebagai bahasa gaul bagi muda mudi yang bangga membangsakan dirinnya sebagi orang Jakarta, yang mungkin mereka pernah hidup di Jakarta atau rajin menyimak acara di TV.
… coba ambil solasi atau lakband, biar cungur/mulut Kuro gak ngobos, kata Syamsiah sambil mengipas-kipaskan kipas-lipat beraroma kayu cendana kemuka Atun.
Kata naib, begini pak Daim kita tunggu setengah jam lagi, menunggu berita-lanjut dari pak Jaka dan Rejo, baru nanti dapat kita laksanakan
… kaaan ape kata gue, diterusin ajee kan ? sambil nyanyi pelan-pelan yang terdengar oleh semua yang hadir didalam ruang tamu
tun disini ajee tuun,
ogah disane banjir,
banjir gak bakal surut Tun malah airnya gede,
terus gimane kiteee bang,
kan ! ade bang kuuuroo neng
Orang yang yang hadir pada ketawa, naib cuma senyum dan mengulum kedua bibirnya kedalam nmulut
… wiiis sire ning jaba bahee kata nyi Sundari ke Kurokandas, kamu diluar saja Ro’
… sabar bapak-ibu tunggu kabar dari pak Jaka dan Rejo, nanti kita baru ambil keputusan untuk dilaksanakan
… ape kate gue, dilaksanain kan ? kata Kuro
… udah jangan dengerin omelan kang-Kuro, kata Tuti Mutia istrinya, sambil membetulakan susuk konde yang menancap di rambut kepala Atun
Makaten kule bade ngedongeng, begini saya mau menjelaskan, kata Naib … tapi jangan seorang pun yang latah atau menyelang dongengan kule.
… Begini ibu-bapak, ibu-bapak
… ehem, ehem, ehem Kurokandas sambil ketawa dalam perut, dengan menggigit kedua bibirnya
… Ogah, kata Nuratun dari belakang … sambil mengadap ke Kuro … Kuro menundukkan kepala anatra takut dan malu melihat wajah Atun yang serius, dikira betul-betul padahal Kurokandas Cuma bercanda, apalagi isterinya cuga ikut jemberut.
Belum selesai bapak-saudara … kata naib
Telphon dari Rejo masuk, kemudian diberikan Naib pakai suara luar yang dapat didengar oleh yang hadir, yang memohon untuk ditunda saja
… Begini nak Rejo, pernikahan dapat dilaksanakan sekarang, apalagi para kerabat dan undangan sudah banyak yang datang dan sebentar lagi akan hujan besar
… sebentan naib ini Abah –maksudnya pak Jaka- akan bicara.
… Jadi begini pak Jaka, Rejo dapat mewakilkan kepada siapa saja yang hadir disini kecuali kepada Wali_Nikah atau Wakil_Wali_Nikah yang akan mengijabkan, … lhoooo kaaan, kata Kuro …telapak tangan kanan Syamsuri menekan kepala Kuro kebawah sampai dagu menekan dadanya.
Ya, terserah naib, ini Rejo biar ngomong sendiri, hatur nuhun niki naib maler banjir malah ageng, trima kasih naib banjir masih ada dan airnya malah naik,… kata pak Jakasurya
… Ya pak naib, wakil saja, … kata Rejo
… Wakil ke Kurokandas ajee Jo
… Pak Naib, Atun dereng paham … kata Nuratun dengan wajahnya sedikit pujat dan cemas
… Disini ada pak Haji Karim, Haji Manaf pak Guru Muhaimin, Haji Fatoni dan HajiTahir Qodimain
… wakil ke pak Haji Fatoni saja, … tunggu ya dibuatkan SMS dahulu.
… Begini neng Atun, .. kata Naib … nanti kang Rejowitana akan wakil menerin nikah Neng untuk kang Rejowinata bin Jakasurya … mulailah wajah Atun cerah kemerahan menandakan bahagia kegembiraanya … diambillah selembar kertas dari Blocknotenya,.. ditulis lalu diberikan kepada Muhit
… Kasihan deeeeeeeh gue, kata Kuro disambut ketawa yang hadir, dilemparkanlah tissue yang masih setengah bungkus kemuka Kurokandas oleh Nuratun sambil tersenyum riang sebagai tanda wawuhan/perdamaian antara keduanya
… Neng disini ajeee neng , ape kate bang Kuuuro, gending Gambang Kromong Kuro menirukan
.... Kang Kuro edan, gile loh kata Atun sambil tersenyun bahagia
… Ini SMS dari Rejo : ‘Pak haji Fatoni, saya Rejowitana bin Jakasurya wakil ke pak haji Fatoni untuk menerima Nikah-Kawinya Nuratun binti Daimun untuk Rejowinata dengan maskawin emas 10 gram hutang.
… kontak suara berjalan lagi, HP diberikan Haji Fatoni, lalu dijawab qobiltu wikalaka,
aku terima perwakilan kamu, kata Haji Fatoni
… Jadi nanti Wali atau Wakilnya mengijabkannya,mengucapkan:
”Haji Fatoni wakil Rejowinata, aku nikahkan-aku kawinkan Rejowinata bin Jakasurya kepada Nuratun binti Daimun (anak perempuan ku) atau ( mewakili Pak Daimun) dengan maskawin 10 gram emas hutang” .
Dan Pak haji Fatoni nanti menjawab
“Aku terima nikah dan kawin Nuratun binti Daimun untuk Rejowinata bin Jakasurya dengan maskawin 10 gram hutang”
Acara berjalan lancar… ketika do’a selamat untuk kedua pengantin akan dibacakan … berbunyilan HP pak Naib … yang disambut dengan suara luar
… Papaaa,,, burung papa hilang
… apaaa ?..kata Pak Naib,,, disambut senyuman yang hadir sambil mengangkat kedua tangan mereka, persiapan mengaminkan do’a
… burung Papaaa hilang, kata suara wanita disana
… yang hadir semuanya tersemun menahan ketawa
… dipulut dan disandera Nuratun, kata Kurokandas, yang mana pak Naib tidak dengar
… penghulu yang akan mendo’a terpaksa ketawa
… Papa simpan didapur.kata naib
…yang hadir semua pada ketawa, kemudian pak naib menutup HPnya sambil kelakar, ngomong
… pengantin tua saja masih memperhatikan burung suaminya, Pengantin Baru harus lebih dari itu.
Sudah empat hari burung Beonya disimpan dikamar mandi dalam sangkar yang agak kecil dipojok diatas lobang pembuangan air, sedangkan Nuri-nya disimpan di plapon rumah digandulkan pada reng penyangga genteng … setiap Masud Chatim, menyapa burungnya sambil menepikkan jempol jari tengah tangan kananya, yang biasa diasambut dengan slamat pagi, tidak ada respon . Ataupun trima kasih … kini ia tidak mau mengicau-mengoceh malahan bulu kepala dan sayapnya diberdirikan tanda kedinginan kemarahan atau mungkin sedang stress … sedangkan Nuri diatas masih seperti biasa … rusaksudah burungku,
Empat hari aman, … tidak ada kabar pemusnahan unggas, rupanya hanya ada penyemprotan racun anti flu burung dan pemberian campuran pakan yang konon mempertebal daya tubuh unggas dari flu. … lega sudah hati Masud … sehabis sholat jum’at tidak balik lagi ke Kantor rupanya mendung sangat gelap … dikeluarkan kedua burungnya dari karantina WC maupun bubungan rumah … tapi pikirannya kacau memikirkan si Beonya yang ngambeg gak mau ngoceh-bicara.
Alhamdulillah kata Naib, rupanya setelah dipindahkan ke sangkarnya semula … ia kegirangan loncat kesan kemari sambil mematuk matukkan paruh ke jeruji sangkar maupun tempat pakannya …. Akan tetapiii,,,, ketika disapa ?! dijawab … krieeet,,,,,,,,,,klik … seperti orang membuka pintu kamar mandi …. Kemudian heeeg blug blegedeg blegedeg blepret blepret courrrrrrrcreeecit, cuit szezzzzzzzzzzz, bush wouushshshshshssss cirrrrrrrrrrr bruh bruh bruh ubruh ubruh ubruh woushsh,,,, kricik kricik kricik, pefz pefz pefz, gebyur gebyur gebyur gebyur gebyur gusuchk gusuchhh Jazzzzzz gebyur gebyur gebyur,,, krukg krehg krehg,,, breghs breghs bregs,,, kricik kricik kricik ,,,phehf phehf phehf ,,,, pyeek pyeek pyeeek,,, tok,,,, klik ….bluwakz …. Waduh rupanya menirukan orang kencing buang air cebok bunyi shower mandi bershampo wudhu, sampai meletakkan gayung dan tutup pintu.
Setiap orang yang biasa menyapa jadi terheran-heran, senyum ketawa lebih-lebih ibu-ibu dan anak-anak, … mereka yang paling seneng godain dan menanggap burung pak Masud Chatim itu……………………………
mic
Tidak ada komentar:
Posting Komentar